Nama Briptu Norman Kamaru tiba-tiba menjadi begitu terkenal. Seorang polisi Gorontalo ini mendadak jadi artis di dunia maya. Namun tidak sampai disitu saja, Briptu Norman Kamaru kini sudah benar-benar menjadi seorang “artis” di layar TV nasional. Siapa sangka dengan diuploadnya video lucu Polisi Gorontalo Menggila dan Polisi Gorontalo Idol yang pemain utamanya adalah pak polisi Briptu Norman Kamaru, dia menjadi artis dadakan yang begitu dinantikan penampilannya di layar televisi.
Enam hari diunggah ke Youtube, video berjudul 'Polisi Gorontalo Menggila' yang menampilkan aksi anggota Brimob Briptu Norman Kamaru sudah dilihat 215.130 orang.
Menyanyikan secara lypsinc lagu berjudul 'Chaiyya-chaiyya' yang dipopulerkan penyanyi India, Shahrukh Khan, Briptu Norman semakin terkenal. Gerakan tangan, pundak, kepala, serta mimik muka Briptu Norman seperti layaknya artis Bollywood.
Coba bandingkan aksi polisi muda nan kocak itu dengan video klip asli lagu yang terkenal di seantero India dalam film Dil Se pada 1998.
Dalam video klip itu, Shahrukh Khan beraksi di atas gerbong kereta api. Dengan jumlah penari lebih dari 20 orang, Shahrukh Khan beradu akting dengan artis cantik India, Manisha Koirala. Suara asli di lagu itu bukanlah milik Shahrukh Khan dan Manisha, melainkan artis Sukhwinder Singh dan Sapna Awasthi.
Film itu sendiri bercerita tentang seorang jurnalis All-India Radio di Delhi, Amat, yang diperankan Shahrukh Khan, yang meliput perpecahan di timur laut India. Amat bertemu Meghna (Manisha Koirala) di stasiun kereta api kecil. Perjumpaan singkat itu membuat Amar jatuh cinta.
Bagai tertimpa durian runtuh, video lipsync Briptu Norman dengan lagu India "Chaiyya, Chaiyya" menjadi pintu untuk mendapatkan rezeki.
Bukan sanksi berat dari Polri, justru Norman mulai mendapatkan pundi-pundi rupiah dari sejumlah pihak yang mengundangnya. Lalu, bagaimana tanggapan Polri soal "komersialisasi" anggotanya itu?
Pihak Polri menyatakan tidak akan ikut campur soal bayaran yang diterima oleh anak muda asal Gorontalo itu. Kapolri telah membuka lebar kesempatan bagi Norman untuk mengembangkan diri. Kalau soal honor, itu langsung ke Norman sendiri. Kalau diundang di TV, memang ada seperti dapat amplop atas jasa Norman. Itu wajar saja.
Polri sadar bahwa penampilan Norman yang saat ini bak selebriti tak akan berlangsung untuk selamanya. Selama masyarakat ingin melihat bakat dan talenta yang dimiliki Norman, Polri akan mempertimbangkan dan mengakomodasinya.
Setidaknya lebih dari 10 undangan menjadi bintang tamu harus antre di tangan Norman. Bahkan, pengacara Farhat Abbas telah menjajaki pengambilan suara untuk single ciptaannya, "Cinta Farhat".
Jumat, 15 April 2011
Kamis, 14 April 2011
Yuri Gagarin - Orang pertama di Antariksa
Tonggak sejarah perjalanan manusia ke ruang angkasa diawali pada 12 April 1961.
Kosmonot Uni Soviet, Yuri Gagarin, yang saat itu baru berusia 27 tahun, mencatatkan diri sebagai manusia pertama yang terbang ke luar angkasa.
Dengan pesawat luar angkasa Vostok 1, Yuri Gagarin berada di orbit Bumi selama 108 menit. Sebuah perjalanan yang mengubah sejarah manusia. Prestasi inilah yang kemudian membuat Presiden AS JF Kenedy, terobsesi untuk mendaratkan astronot AS di Bulan.
Namun, Yuri Gagarin tak lama menikmati status tenarnya sebagai manusia pertama di luar angkasa. Gagarin meninggal pada tanggal 27 Maret 1968, ketika pesawat MiG-15 yang dia piloti jatuh di dekat Moskow.
Kini, 49 tahun perjalanan Yuri Gagarin menembus langit bukan hanya diaku sebagai bagian sejarah Uni Soviet yang telah pecah, namun sejarah dunia.
Pada 12 April 2010, perayaan memperingati jejak sejarah Yuri Gagarin tak hanya dilangsungkan di berbagai negara di dunia, dari New York , Washington DC, Los Angeles, London, Tokyo, Moskow, Sydney, Beijing, Delhi, hingga Nairobi.
"Hari Yuri Gagarin' bahkan diperingati di luar angkasa.
Presiden Rusia Dmitry Medvedev meminta para penghuni Stasiun Antariksa Internasional yang terdiri dari tiga kosmonot Rusia, dua astronot Amerika dan satu astronot Jepang memperingati dua tonggak penting dalam perjalanan ruang angkasa.
Selain mengingat perjalanan Yuri Gagarin, di hari yang sama, juga diperingati 29 tahun peluncuran pesawat ulang alik pertama.
"Ruang angkasa adalah sesuatu yang menyatukan kita semua. Ini adalah isu global, " kata Medvedev pada para astronot dan kosmonot, seperti dimuat laman The Globe and Mail.
Tiga hari kemudian, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama menyuarakan mimpi fantastis misi luar angkasa Amerika Serikat.
Sama dengan langkah John F Kennedy pada 1961 yang bercita-cita mengirim astronot ke Bulan -- yang berhasil diwujudkan pada 1969, Obama ingin membuat terobosan baru.
Pada 2025, AS akan memiliki pesawat luar angkasa baru yang dirancang untuk perjalanan jarak jauh.
Juga, misi luar angkasa yang melampaui Bulan -- ada orang-orang terpilih yang akan menjelajah belantara ruang angkasa.
Roket Soyuz TMA-21 milik Rusia yang diberi nama khusus Gagarin sukses bergabung ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Wahana ruang angkasa tersebut membawa kapsul berisi tiga awak yang akan bertugas di ruang angkasa selama enam bulan ke depan.
Gagarin diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan, pada 4 April 2011 lalu dari landasan pacu saat sama dengan roket yang membawa Yuri Gagarin melesat ke ruang angkasa pada 12 April 1961 dengan roket Vostok. Gagarin tercatat sebagai orang pertama di dunia yang mencapai luar angkasa. Peluncuran tersebut sekaligus memperingati 50 tahun misi berawak Rusia.
Kalau 50 tahun yang lalu, roket hanya membawa satu awak, kali ini roket bisa membawa tiga awak sekaligus dan telah menjadi alat transportasi antara Bumi dan stasiun antariksa. Roket luar angkasa Gagarin membawa dua kosmonot Rusia, Alexander Samoukutyaev dan Andrey Borisenko, serta seorang astronot NASA Ron Gagan. Ketiganya akan menggantikan tugas di stasiun antariksa sampai September 2011 mendatang.
Saat memecahkan rekor menjadi orang pertama di luar angkasa, Gagarin hanya mengorbit Bumi satu putaran saja. Kapsul yang membawanya mendarat dengan aman 108 menit sejak peluncuran dilakukan. Kini, misi luar angkasa bisa dilakukan jauh lebih lama berkat perkembangan teknologi. Sayang, Gagarin tidak sempat melihat kelanjutan pengembangan misi antariksa karena ia tewas mendadak setelah pesawat latih yang ditumpanginya mengalami kecelakaan pada tahun 1968. Gagarin mati muda di usia 34 tahun.
Kosmonot Uni Soviet, Yuri Gagarin, yang saat itu baru berusia 27 tahun, mencatatkan diri sebagai manusia pertama yang terbang ke luar angkasa.
Dengan pesawat luar angkasa Vostok 1, Yuri Gagarin berada di orbit Bumi selama 108 menit. Sebuah perjalanan yang mengubah sejarah manusia. Prestasi inilah yang kemudian membuat Presiden AS JF Kenedy, terobsesi untuk mendaratkan astronot AS di Bulan.
Namun, Yuri Gagarin tak lama menikmati status tenarnya sebagai manusia pertama di luar angkasa. Gagarin meninggal pada tanggal 27 Maret 1968, ketika pesawat MiG-15 yang dia piloti jatuh di dekat Moskow.
Kini, 49 tahun perjalanan Yuri Gagarin menembus langit bukan hanya diaku sebagai bagian sejarah Uni Soviet yang telah pecah, namun sejarah dunia.
Pada 12 April 2010, perayaan memperingati jejak sejarah Yuri Gagarin tak hanya dilangsungkan di berbagai negara di dunia, dari New York , Washington DC, Los Angeles, London, Tokyo, Moskow, Sydney, Beijing, Delhi, hingga Nairobi.
"Hari Yuri Gagarin' bahkan diperingati di luar angkasa.
Presiden Rusia Dmitry Medvedev meminta para penghuni Stasiun Antariksa Internasional yang terdiri dari tiga kosmonot Rusia, dua astronot Amerika dan satu astronot Jepang memperingati dua tonggak penting dalam perjalanan ruang angkasa.
Selain mengingat perjalanan Yuri Gagarin, di hari yang sama, juga diperingati 29 tahun peluncuran pesawat ulang alik pertama.
"Ruang angkasa adalah sesuatu yang menyatukan kita semua. Ini adalah isu global, " kata Medvedev pada para astronot dan kosmonot, seperti dimuat laman The Globe and Mail.
Tiga hari kemudian, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama menyuarakan mimpi fantastis misi luar angkasa Amerika Serikat.
Sama dengan langkah John F Kennedy pada 1961 yang bercita-cita mengirim astronot ke Bulan -- yang berhasil diwujudkan pada 1969, Obama ingin membuat terobosan baru.
Pada 2025, AS akan memiliki pesawat luar angkasa baru yang dirancang untuk perjalanan jarak jauh.
Juga, misi luar angkasa yang melampaui Bulan -- ada orang-orang terpilih yang akan menjelajah belantara ruang angkasa.
Roket Soyuz TMA-21 milik Rusia yang diberi nama khusus Gagarin sukses bergabung ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Wahana ruang angkasa tersebut membawa kapsul berisi tiga awak yang akan bertugas di ruang angkasa selama enam bulan ke depan.
Gagarin diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan, pada 4 April 2011 lalu dari landasan pacu saat sama dengan roket yang membawa Yuri Gagarin melesat ke ruang angkasa pada 12 April 1961 dengan roket Vostok. Gagarin tercatat sebagai orang pertama di dunia yang mencapai luar angkasa. Peluncuran tersebut sekaligus memperingati 50 tahun misi berawak Rusia.
Kalau 50 tahun yang lalu, roket hanya membawa satu awak, kali ini roket bisa membawa tiga awak sekaligus dan telah menjadi alat transportasi antara Bumi dan stasiun antariksa. Roket luar angkasa Gagarin membawa dua kosmonot Rusia, Alexander Samoukutyaev dan Andrey Borisenko, serta seorang astronot NASA Ron Gagan. Ketiganya akan menggantikan tugas di stasiun antariksa sampai September 2011 mendatang.
Saat memecahkan rekor menjadi orang pertama di luar angkasa, Gagarin hanya mengorbit Bumi satu putaran saja. Kapsul yang membawanya mendarat dengan aman 108 menit sejak peluncuran dilakukan. Kini, misi luar angkasa bisa dilakukan jauh lebih lama berkat perkembangan teknologi. Sayang, Gagarin tidak sempat melihat kelanjutan pengembangan misi antariksa karena ia tewas mendadak setelah pesawat latih yang ditumpanginya mengalami kecelakaan pada tahun 1968. Gagarin mati muda di usia 34 tahun.
H. Rosihan Anwar - wartawan lima zaman
H. Rosihan Anwar (lahir di Kubang Nan Dua, Solok, Sumatera Barat, 10 Mei 1922; umur 88 tahun) adalah tokoh pers Indonesia, meski dirinya lebih tepat dikatakan sebagai sejarawan, sastrawan, bahkan budayawan. Rosihan yang memulai karier jurnalistiknya sejak berumur 20-an, tercatat telah menulis 21 judul buku dan mungkin ratusan artikel di hampir semua koran dan majalah utama di Indonesia dan di beberapa penerbitan asing.
Anak keempat dari sepuluh bersaudara putra Anwar Maharaja Sutan, seorang demang di Padang, Sumatera Barat ini menyelesaikan sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Ia pun melanjutkan pendidikannya ke AMS di Yogyakarta. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai workshop di dalam dan di luar negeri, termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat.
Rosihan telah hidup dalam 'multi-zaman'. Di masa perjuangan, dirinya pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukitduri, Jakarta Selatan. Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu. Namun di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama. Sayangnya rezim Orde Baru ini pun menutup Pedoman pada tahun 1974-kurang dari setahun setelah Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di leher para penerimanya.
Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama enam tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film sampai sekarang.
Pada tahun 2007, Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946 mendapat penghargaan 'Life Time Achievement' atau 'Prestasi Sepanjang Hayat' dari PWI Pusat.
Rosihan menikah dengan Siti Zuraida Binti Moh. Sanawi pada tahun 1947 dan dikaruniai tiga anak.
HIS, Padang (1935)
Oleh karena itu, pada tahun 1961, dalam rangka memperingati hari ulang tahun pahlawan itu, pemerintah Filipina mengundang Rosihan Anwar ke negaranya. “Selamat Tinggal” (“Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia) pun berkumandang, dideklamasikan oleh Rosihan, pada acara itu. Pada suatu hari di tahun 1957 (saat Rosihan masih menjabat sebagai pemimpin redaksi Pedoman), dalam sebuah resepsi, Rosihan berseloroh kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kafrawi, “Kafrawi, you kapan memberi saya kesempatan naik haji?” Sebenarnya, ia hanya bercanda. Perkenalan anatara Rosihan dan Ida terjadi ketika mereka sama-sama bekerja di surat kabar Asia Raya, Rosihan adalah reporter dan Ida adalah sekretaris pemimpin redaksi.
Rosihan Anwar selama ini dikenal sebagai wartawan lima zaman. Ia telah menjadi penulis sejak zaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Di usia senja, ia masih aktif mengirimkan tulisan ke media massa dan menulis buku. Buku terakhir yang ditulisnya adalah Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid IV (Penerbit Buku Kompas, November 2010). Ia kini juga sedang menyiapkan memoar kehidupan cintanya dengan sang istri dengan judul yang sudah disiapkan Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida.
Rosihan telah hidup dalam 'multi-zaman'. Di masa perjuangan, dirinya pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukitduri, Jakarta Selatan. Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu. Namun di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama. Sayangnya rezim Orde Baru ini pun menutup Pedoman pada tahun 1974-kurang dari setahun setelah Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di leher para penerimanya.
Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama enam tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film sampai sekarang.
Pada tahun 2007, Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946 mendapat penghargaan 'Life Time Achievement' atau 'Prestasi Sepanjang Hayat' dari PWI Pusat.
Rosihan menikah dengan Siti Zuraida Binti Moh. Sanawi pada tahun 1947 dan dikaruniai tiga anak.
HIS, Padang (1935)
- MULO, Padang (1939)
- AMS-A II, Yogyakarta (1942)
- Drama Workshop, Universitas Yale, AS (1950)
- School of Journalism, Columbia University New York, AS (1954)
- Reporter Asia Raya, (1943-1945)
- Redaktur harian Merdeka, (1945-1946)
- Pendiri/Pemred majalah Siasat (1947-1957)
- Pendiri/Pemred harian Pedoman, (1948-1961)
- Pendiri Perfini (1950)
- Kolumnis Business News, (1963 -- sekarang)
- Kolumnis Kompas, KAMI, AB (1966-1968)
- Koresponden harian The Age, Melbourne, harian Hindustan Times New Delhi, Kantor Berita World Forum Features, London, mingguan Asian, Hong Kong (1967-1971)
- Pemred harian Pedoman, (1968-1974)
- Koresponden The Straits, Singapura dan New Straits Times, Kuala Lumpur (1976-1985)
- Wartawan Freelance (1974 -- sekarang)
- Kolumnis Asiaweek, Hong Kong (1976 -- sekarang)
- Ketua Umum PWI Pusat (1970-1973)
- Ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978)
- Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat (1983 -- sekarang)
- Wakil Ketua Dewan Film Nasional (1978 -- sekarang)
- Anggota Dewan Pimpinan Harian YTKI (1976 -- sekarang)
- Committee Member AMIC, Singapore (1973 -- sekarang)
- Dosen tidak tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1983 -- sekarang)
- Ke Barat dari Rumah, 1952
- India dari Dekat, 1954
- Dapat Panggilan Nabi Ibrahim, 1959
- Islam dan Anda, 1962
- Raja Kecil (novel), 1967
- Ihwal Jurnalistik, 1974
- Kisah-kisah zaman Revolusi, 1975
- Profil Wartawan Indonesia, 1977
- Kisah-kisah Jakarta setelah Proklamasi, 1977
- Jakarta menjelang Clash ke-I, 1978
- Menulis Dalam Air, autobiografi, SH, 1983
- Musim Berganti, Grafitipers, 1985
- Bintang Mahaputra III (1974)
- Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan (2005)
- Life Time Achievement (2007)
Oleh karena itu, pada tahun 1961, dalam rangka memperingati hari ulang tahun pahlawan itu, pemerintah Filipina mengundang Rosihan Anwar ke negaranya. “Selamat Tinggal” (“Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia) pun berkumandang, dideklamasikan oleh Rosihan, pada acara itu. Pada suatu hari di tahun 1957 (saat Rosihan masih menjabat sebagai pemimpin redaksi Pedoman), dalam sebuah resepsi, Rosihan berseloroh kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kafrawi, “Kafrawi, you kapan memberi saya kesempatan naik haji?” Sebenarnya, ia hanya bercanda. Perkenalan anatara Rosihan dan Ida terjadi ketika mereka sama-sama bekerja di surat kabar Asia Raya, Rosihan adalah reporter dan Ida adalah sekretaris pemimpin redaksi.
Rosihan Anwar selama ini dikenal sebagai wartawan lima zaman. Ia telah menjadi penulis sejak zaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Di usia senja, ia masih aktif mengirimkan tulisan ke media massa dan menulis buku. Buku terakhir yang ditulisnya adalah Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid IV (Penerbit Buku Kompas, November 2010). Ia kini juga sedang menyiapkan memoar kehidupan cintanya dengan sang istri dengan judul yang sudah disiapkan Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida.
Kabar duka datang, Kamis 14 April 2011 pagi. Penulis dan wartawan senior H Rosihan Anwar dalam usia 89 tahun meninggal dunia setelah sempat dirawat lebih dari sebulan di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan.
Senin, 11 April 2011
Indonesia tangkap Nelayan - Malaysia membantah
Kementerian Kelautan dan Perikanan membenarkan telah menangkap dua kapal nelayan berbendera Malaysia yang memasuki batas perairan kedua negara pada hari Kamis (7/4).
Menurut Juru Bicara Kementerian Kelautan dan Perikanan, Yulistyo Mudho di Jakarta, Minggu , kedua kapal nalayan ilegal tersebut ditangkap dalam operasi bersama Badan Koordinasi Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakorkamla ) yang dilakukan secara terpadu dari KKP, TNI-Angkatan Laut Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri dan pihak Kepolisian dengan mengerahkan sejumlah kapal patroli
"Operasi tersebut hanya bertujuan untuk menegakkan kedaulatan Indonesia terhadap "illegal fishing" (penangkapan ikan ilegal) di perairan indonesia," ujar Yulistyo. Namun dia tidak menjelaskan secara rinci tentang lokasi tempat kapal Malaysia itu ditangkap.
Menurut dia, dalam operasi terpadu tersebut merupakan sebuah kewajaran jika ada beberapa nelayan illegal yang tertangkap sedang memasuki wilayah RI.
Sedangkan hasil konfirmasi dari Ditjen PSDKP (Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan) menyatakan bahwa dua kapal "illegal fishing" asal Malaysia ditangkap kapal Patroli Hiu 001 pada tanggal hari Kamis (7/4) pukul 11.20.
Menurut Yulistyo proses pemberhentian, pemeriksaan dan penahanan (Henrikhan) kedua kapal berbedera Malaysia yang masing-masing memiliki lima orang ABK (Anak Buah Kapal) kapal KF 5195 dan KF 5325 dilakukan pada pukul 11.50 waktu setempat.
Kedua kapal nelayan tersebut dilengkapi dengan alat tangkap jenis trawl da diketahui bahwa kesepuluh ABK-nya berasal dari Thailand, ujar Sulistyo.
Dari proses penangkapan tersebut, kedua kapal nelayan asing beserta awak kapalnya segera dibawa ke Lantamal (Pangkalan Utama Angkatan Laut) Belawan, Sumatera Utara, tambah Sulistyo.
Menurut informasi yang dilansir dari laman The Star, Menteri Pertahanan Malaysia mengklaim penangkapan kapal nelayan Malaysia itu terjadi saat kedua kapal berada pada 25 mil dari perbatasan Indonesia-Malaysia
Ketegangan terjadi saat otoritas Indonesia menangkap dua kapal nelayan Malaysia, Sabtu 9 April 2011. Penangkapan terjadi di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia.
Seperti dilansir dari laman The Star, Menteri Pertahanan Malaysia mengklaim penangkapan kapal nelayan Malaysia itu terjadi saat kedua kapal berada pada 25 mil dari perbatasan Indonesia-Malaysia. Kedua kapal nelayan Malaysia itu ditangkap oleh petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Begitu mendapatkan laporan penangkapan, Angkatan Laut Kerajaan Malaysia dan Badan Penegakan Maritim Malaysia (APMM) mengirim empat kapal untuk mencari kapal nelayan yang ditangkap.
Saat pencarian, APMM menemukan dua kapal dari Hutan Melintang asal Perak itu telah bergerak menuju perbatasan dengan dikawal kapal otoritas maritim Indonesia. Melihat kapal nelayannya dibawa menuju perairan Indonesia, AMPP pun memberikan peringatan melalui pengeras suara.
"Petugas APMM menggunakan pengeras suara untuk memerintahkan otoritas Indonesia melepaskan perahu karena mereka masih berada di perairan Malaysia, tapi perintah itu diabaikan," tulis Kementerian Pertahanan Malaysia dalam pernyataan persnya.
Bahkan, perintah itu dijawab otoritas Indonesia dengan menodongkan senjata ke arah helikopter APMM Malaysia. Petugas Indonesia dari atas kapal mengarahkan senjatanya ke helikopter (Malaysia) ketika mereka berusaha mencegah mereka (perahu yang ditangkap dan petugas Indonesia) melintasi perbatasan.
Namun, untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, otoritas Malaysia tidak mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghentikan kapal petugas Indonesia. Dua perahu Malaysia itu dibawa melintasi perbatasan sekitar pukul 15.50.
"Pemerintah Malaysia akan menangani kasus ini secara diplomatis, untuk menghindari ketegangan antara kedua negara," tulis kemnetrian Pertahanan Malaysia.
George Town, Penang, Bernama melaporkan bahwa aparat APMM sebelumnya menahan empat nelayan Indonesia di dekat Pulau Kendi, Sabtu pagi. Keempatnya berusia antara 16 dan 19 tahun.
"Perahu itu berasal dari Belawan dan tidak memiliki dokumen perjalanan yang valid," ujar Komandan Penegakan Maritim Penang, Robert Teh Geok Chuan.
Mereka ditahan berdasar UU Perikanan karena memasuki perairan Malaysia untuk menangkap ikan secara ilegal, dan dijerat dengan UU Imigrasi karena tidak memiliki identitas valid dan surat perjalanan.
Seperti dilansir dari laman The Star, Menteri Pertahanan Malaysia mengklaim penangkapan kapal nelayan Malaysia itu terjadi saat kedua kapal berada pada 25 mil dari perbatasan Indonesia-Malaysia. Kedua kapal nelayan Malaysia itu ditangkap oleh petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Begitu mendapatkan laporan penangkapan, Angkatan Laut Kerajaan Malaysia dan Badan Penegakan Maritim Malaysia (APMM) mengirim empat kapal untuk mencari kapal nelayan yang ditangkap.
Saat pencarian, APMM menemukan dua kapal dari Hutan Melintang asal Perak itu telah bergerak menuju perbatasan dengan dikawal kapal otoritas maritim Indonesia. Melihat kapal nelayannya dibawa menuju perairan Indonesia, AMPP pun memberikan peringatan melalui pengeras suara.
"Petugas APMM menggunakan pengeras suara untuk memerintahkan otoritas Indonesia melepaskan perahu karena mereka masih berada di perairan Malaysia, tapi perintah itu diabaikan," tulis Kementerian Pertahanan Malaysia dalam pernyataan persnya.
Bahkan, perintah itu dijawab otoritas Indonesia dengan menodongkan senjata ke arah helikopter APMM Malaysia. Petugas Indonesia dari atas kapal mengarahkan senjatanya ke helikopter (Malaysia) ketika mereka berusaha mencegah mereka (perahu yang ditangkap dan petugas Indonesia) melintasi perbatasan.
Namun, untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, otoritas Malaysia tidak mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghentikan kapal petugas Indonesia. Dua perahu Malaysia itu dibawa melintasi perbatasan sekitar pukul 15.50.
"Pemerintah Malaysia akan menangani kasus ini secara diplomatis, untuk menghindari ketegangan antara kedua negara," tulis kemnetrian Pertahanan Malaysia.
George Town, Penang, Bernama melaporkan bahwa aparat APMM sebelumnya menahan empat nelayan Indonesia di dekat Pulau Kendi, Sabtu pagi. Keempatnya berusia antara 16 dan 19 tahun.
"Perahu itu berasal dari Belawan dan tidak memiliki dokumen perjalanan yang valid," ujar Komandan Penegakan Maritim Penang, Robert Teh Geok Chuan.
Mereka ditahan berdasar UU Perikanan karena memasuki perairan Malaysia untuk menangkap ikan secara ilegal, dan dijerat dengan UU Imigrasi karena tidak memiliki identitas valid dan surat perjalanan.
Minggu, 10 April 2011
Sejarah Sepakbola
Dalam sebuah dokumen militer disebutkan Sepak bola pertama kali dimainkan di China dengan nama tsu chu pada tahun 5000 sebelum masehi tepatnya pada masa dinasti Tsin. Awalnya, pada waktu itu sepak bola awalnya dipakai untuk melatih fisik para prajurit kerajaan. Namun, karena dianggap mengasyikkan, maka tidak hanya anggota kerajaan saja yang memainkannya, tapi juga rakyat di seluruh Cina.
Sedangkan Menurut Bill Muray, pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan sejak awal Masehi. Saat itu, orang-orang di era Mesir Kuno sudah mengenal permainan membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Sejarah Yunani Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut episcuro, permainan menggunakan bola. Bukti itu tergambar pada relief-relief di dinding museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan paha.
Di Jepang dikenal pula permainan semacam "tsu-chu" sekitar 500 - 600 tahun kemudian, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Di Yunani juga mengenal olahraga pra sepak bola yang bernama "episkyros", juga di Romawi orang mengenal permainan "harpastum" yaitu permainan dengan bola berukuran kecil.
Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini. Tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini. Prakarsanya di mulai pada tahun 1963, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernikan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Dan pada tanggal 26 Oktober lahirlah Football Association yang pertama. Buntut dari pertemuan itu adalah keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.
Bicara tentang sejarah, olah raga sepak bola modern terlahir pada pertengahan abad ke 19 di Inggris. Akan tetapi, F.I.F.A.(Federation of International Football Association) pada tahun 2004 sudah secara resmi mengakui bahwa sepak bola paling awal sekali berasal dari Tiongkok, kala itu disebut Cu Ju (baca: Ju Cü). Permainan sepak bola tertua ini, bisa ditelusuri hingga lebih dari 2400 tahun yang lalu pada masa Chun Qiu Zhan Guo ( Musim semi musim gugur negara-negara berperang) dan telah melewati silih pergantian dinasti dan dalam jangka waktu lama tidak surut. Yang lebih penting lagi ialah, orang Tiongkok kuno ternyata sudah sejak dini untuk jenis olah raga sepak bola ini telah mengukuhkan semangat sportifitas dan standard etika yang ketat.
Cu Ju adalah kegiatan sepak bola terawal yang dicatat dalam notasi sejarah. Menurut catatan Siasat negara berperang, pada zaman Chun Qiu (musim semi dan musim gugur, antara tahun 722 s/d 481 S.M.) ibu kota dari negara Qi: Lin Zi, Cu Ju sudah popular. Cu Ju kala itu disebut pula “?? /Ta Ju, baca: Da cü”. Cu dan Ta, sama-sama berarti menendang, Ju bermakna : bola. Sesuai kitab Tai Ping Qing Hua, bola pada zaman dinasti Han “Terbuat dari kulit sebagai bahan luarnya dan membungkus bahan dalamnya yang berisi rambut”.
Liu Xiang dari zaman dinasti Han (tahun 206 S.M s/d 220 Masehi) mencatat di bukunya: Catatan Lain bahwa: “Pemain Cu Ju / sepak bola, konon diciptakan oleh Huang Di (kaisar Kuning). Disebutkan mulai zaman Zhan Guo (Negara saling berperang), Ta Ju identik dengan semangat tempur prajurit. Maka dari itu menggembleng laskar, diketahui yang berkemampuan hal tersebut. Selain suka permainannya juga menyatakan berlatih”. Tai Ping Qing Hua selain itu juga mencatat: “Ta Ju bermula pada pasca Xuan (kaisar Huang Di). Permainan dari latihan seni bela diri di dalam markas militer.” Dari situ bisa diketahui bahwa kegiatan persepak-bolaan di kala zaman Han selain sejenis olahraga dan hiburan, juga adalah semacam pelatihan fisik dan mental prajurit dan menyeleksi ketahanan fisik serta pelatihan militer yang menunjang semangat tempur.
Seorang bernama Li You dari dinasti Han pernah menulis tentang Ju Cheng Ming (Piagam kota bola), telah mencatat perlengkapan lapangan sepak bola pada masa dinasti Han dan ringkasan tentang kegiatan pertandingan, bahkan menjelaskan tentang persyaratan etika yang harus dimiliki oleh wasit dan pemain. Piagam tersebut merefleksikan bahwa olahraga sepak bola ala Tiongkok sudah semenjak zaman Han dibuatkan sebuah system yang cukup lengkap, seperti diungkapkan sbb:
Di dalam piagam disebutkan Ju (bola) dan Ju Chang (lapangan bola), diartikan bola dan lapangan bola melambangkan langit dan bumi, Yin dan Yang. Ketentuan pembuatan pintu bola, yakni pada kedua ujung masing-masing dipasang 6 buah pintu bola berbentuk lobang model Rembulan yang disebut Ju Shi (ruang bola), dijadikan sebagai target penyerangan, dalam perlombaan masing-masing pihak ada 12 pemain. Kalimat ”(Jian Chang Li Ping, Qi Li You Chang)” menjelaskan dalam perlombaan kedua pihak harus memilih kapten dan wasit. Sedangkan pertandingan memiliki peraturan tanding yang stabil, ke 2 pihak harus melaksanakannya sesuai peraturan.
Selanjutnya piagam menjelaskan, pada zaman Han olahraga sepak bola mensyaratkan wasit dan pemain pertandingan harus memiliki etika bermain. ”(Bu Yi Qin Shu, Bu You A Si)” berarti persyaratan kepada sang wasit. Wasit pada saat melaksanakan peraturan pertandingan harus adil tidak memihak, tidak tunduk pada hubungan pribadi, tidak boleh condong kepada salah satu pihak. ”(Duan Xin Ping Yi, Mo Yuan Qi Fei)”, bermakna persyaratan terhadap para pemain. Pemain harus berkarakter lurus, tenang dan sabar, walau kalah bertanding, juga tidak diperkenankan sembarangan mengomel dan menyalahkan pihak lain. ”(Ju Zheng You Ran, Kuang Hu Zhi Ji)”, menunjukkan bahwa olahraga sepak bola saja harus memiliki standard etika seperti ini, apalagi masalah pemerintahan sudah sepatutnya demikian
Dari Ju Cheng Ming bisa diketahui bahwa pada zaman Tiongkok kuno 2000 tahun lebih yang lalu, orang-orang sudah jauh hari menegakkan etika olah raga yang positif, selain menuntut semangat kompetisi yang adil sportif bahkan terhadap wasit dan pemain mensyaratkan moral yang ketat dan standard karakter. Dewasa ini persepakbolaan Tiongkok menghadapi etika bobrok kecurangan wasit dan main sabun, sehingga tidak bergairah dan lesu supporter, hal tersebut diatas semestinya berefek sebagai peringatan dan panutan yang baik.
Zaman dinasti Tang (baca: Dang) adalah perkembangan Cu Ju Tiongkok yang paling berjaya. Orang zaman Tang melakukan perombakan besar terhadap Ju (bola), yaitu bola dari berinti padat dirubah berinti kosong, kantongan udara menggantikan material pengisi, disebut Qi Qiu (baca: Ji Jiu = bola udara). Bola yang direvolusi bertambah daya pantulnya, sehingga dalam bidang teknik dan strategi sepak bola memperoleh lonjakan besar, telah membuat sepak bola semakin bervariatif. Orang Tang juga mengganti pintu bola dengan Ju Shi ( ruang bola), pada kedua ujung lapangan didirikan tonggak yang dipasangi jala yang membentuk pintu bola / gawang. Cu Ju Tiongkok juga menyebar ke Jepang pada saat zaman Tang tersebut.
Pada zaman dinasti Song ditandai dengan pendirian tim Cu Ju dari kalangan rakyat, Perkumpulan Qi Yun, Perkumpulan Yuan, dll adalah Perkumpulan Bola yang tersohor kala itu. Perkumpulan-perkumpulan tersebut memiliki teknik yang handal dan tendangan beragam, selain itu giat mempromosikan kegiatan Cu Ju dan pertandingannya. Buku (Hui Chen Hou Lu = > Catatan akhir tentang Menebar Debu) dari Wang Mingqing mencatat sbb: Ketika itu seseorang bernama Gao Qiu (baca: Kao Jiu) dari perkumpulan Yuan , karena memiliki teknik bola super, sampai diangkat menjadi Komandan Depan Istana oleh sang kaisar, boleh dibilang ia adalah bintang sepak bola pertama di dunia.
Yang patut disebut juga adalah pendiri dinasti Song / Song Tai Zu bernama Zhao Kuangyin, sangat menggemari “Cu Ju”, konon seni bolanya juga termasuk hebat. Para pelukis dari dinasti yang berlainan pernah membuat karya berthema Song Taizu bermain “Cu Ju”.
Namun Cu Ju sesampainya pada dinasti Ming mulai memudar. Pendiri dinasti Ming/ Ming Taizu pernah memerintahkan pelarangan prajurit bermain Cu Ju, bahkan ada prajurit karena melanggar larangan tersebut sehingga dipotong kaki kanannya. Dinasti Qing juga tidak melanjutkan kegiatan Cu Ju, yang membuatnya menuju kepunahan.
Di Jepang dikenal pula permainan semacam “tsu-chu” sekitar 500 – 600 tahun kemudian yang bernama Kemari, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Yunani dengan “episkyros”, Romawi (Italia) dengan “haspartum”, dan Perancis dengan “choule” bisa memperpanjang daftar yang membuktikan sepakbola adalah olah raga yang berusia sangat tua. Ada dugaan bahwa orang-orang Romawi membawa permainan itu ke Inggris. Tapi masih disangsikan apakah haspartum merupakan pendahulu sepak bola yang sekarang dikenal ini, sebab penduduk Celtic di Cronwall juga sudah mengenal permainan yang serupa yang disebut “hurling”. Waktu itu jelas belum ada peraturan yang baku. Orang boleh bermain tanpa jumlah yang pasti dan bukan hanya kaki, tetapi tanganpun boleh ikut memainkan bola. Bahkan boleh menendang tulang kering serta membawa lari bola. Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini, tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini.
Sedangkan Menurut Bill Muray, pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan sejak awal Masehi. Saat itu, orang-orang di era Mesir Kuno sudah mengenal permainan membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Sejarah Yunani Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut episcuro, permainan menggunakan bola. Bukti itu tergambar pada relief-relief di dinding museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan paha.
Di Jepang dikenal pula permainan semacam "tsu-chu" sekitar 500 - 600 tahun kemudian, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Di Yunani juga mengenal olahraga pra sepak bola yang bernama "episkyros", juga di Romawi orang mengenal permainan "harpastum" yaitu permainan dengan bola berukuran kecil.
Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini. Tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini. Prakarsanya di mulai pada tahun 1963, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernikan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Dan pada tanggal 26 Oktober lahirlah Football Association yang pertama. Buntut dari pertemuan itu adalah keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.
Bicara tentang sejarah, olah raga sepak bola modern terlahir pada pertengahan abad ke 19 di Inggris. Akan tetapi, F.I.F.A.(Federation of International Football Association) pada tahun 2004 sudah secara resmi mengakui bahwa sepak bola paling awal sekali berasal dari Tiongkok, kala itu disebut Cu Ju (baca: Ju Cü). Permainan sepak bola tertua ini, bisa ditelusuri hingga lebih dari 2400 tahun yang lalu pada masa Chun Qiu Zhan Guo ( Musim semi musim gugur negara-negara berperang) dan telah melewati silih pergantian dinasti dan dalam jangka waktu lama tidak surut. Yang lebih penting lagi ialah, orang Tiongkok kuno ternyata sudah sejak dini untuk jenis olah raga sepak bola ini telah mengukuhkan semangat sportifitas dan standard etika yang ketat.
Cu Ju adalah kegiatan sepak bola terawal yang dicatat dalam notasi sejarah. Menurut catatan Siasat negara berperang, pada zaman Chun Qiu (musim semi dan musim gugur, antara tahun 722 s/d 481 S.M.) ibu kota dari negara Qi: Lin Zi, Cu Ju sudah popular. Cu Ju kala itu disebut pula “?? /Ta Ju, baca: Da cü”. Cu dan Ta, sama-sama berarti menendang, Ju bermakna : bola. Sesuai kitab Tai Ping Qing Hua, bola pada zaman dinasti Han “Terbuat dari kulit sebagai bahan luarnya dan membungkus bahan dalamnya yang berisi rambut”.
Liu Xiang dari zaman dinasti Han (tahun 206 S.M s/d 220 Masehi) mencatat di bukunya: Catatan Lain bahwa: “Pemain Cu Ju / sepak bola, konon diciptakan oleh Huang Di (kaisar Kuning). Disebutkan mulai zaman Zhan Guo (Negara saling berperang), Ta Ju identik dengan semangat tempur prajurit. Maka dari itu menggembleng laskar, diketahui yang berkemampuan hal tersebut. Selain suka permainannya juga menyatakan berlatih”. Tai Ping Qing Hua selain itu juga mencatat: “Ta Ju bermula pada pasca Xuan (kaisar Huang Di). Permainan dari latihan seni bela diri di dalam markas militer.” Dari situ bisa diketahui bahwa kegiatan persepak-bolaan di kala zaman Han selain sejenis olahraga dan hiburan, juga adalah semacam pelatihan fisik dan mental prajurit dan menyeleksi ketahanan fisik serta pelatihan militer yang menunjang semangat tempur.
Seorang bernama Li You dari dinasti Han pernah menulis tentang Ju Cheng Ming (Piagam kota bola), telah mencatat perlengkapan lapangan sepak bola pada masa dinasti Han dan ringkasan tentang kegiatan pertandingan, bahkan menjelaskan tentang persyaratan etika yang harus dimiliki oleh wasit dan pemain. Piagam tersebut merefleksikan bahwa olahraga sepak bola ala Tiongkok sudah semenjak zaman Han dibuatkan sebuah system yang cukup lengkap, seperti diungkapkan sbb:
Di dalam piagam disebutkan Ju (bola) dan Ju Chang (lapangan bola), diartikan bola dan lapangan bola melambangkan langit dan bumi, Yin dan Yang. Ketentuan pembuatan pintu bola, yakni pada kedua ujung masing-masing dipasang 6 buah pintu bola berbentuk lobang model Rembulan yang disebut Ju Shi (ruang bola), dijadikan sebagai target penyerangan, dalam perlombaan masing-masing pihak ada 12 pemain. Kalimat ”(Jian Chang Li Ping, Qi Li You Chang)” menjelaskan dalam perlombaan kedua pihak harus memilih kapten dan wasit. Sedangkan pertandingan memiliki peraturan tanding yang stabil, ke 2 pihak harus melaksanakannya sesuai peraturan.
Selanjutnya piagam menjelaskan, pada zaman Han olahraga sepak bola mensyaratkan wasit dan pemain pertandingan harus memiliki etika bermain. ”(Bu Yi Qin Shu, Bu You A Si)” berarti persyaratan kepada sang wasit. Wasit pada saat melaksanakan peraturan pertandingan harus adil tidak memihak, tidak tunduk pada hubungan pribadi, tidak boleh condong kepada salah satu pihak. ”(Duan Xin Ping Yi, Mo Yuan Qi Fei)”, bermakna persyaratan terhadap para pemain. Pemain harus berkarakter lurus, tenang dan sabar, walau kalah bertanding, juga tidak diperkenankan sembarangan mengomel dan menyalahkan pihak lain. ”(Ju Zheng You Ran, Kuang Hu Zhi Ji)”, menunjukkan bahwa olahraga sepak bola saja harus memiliki standard etika seperti ini, apalagi masalah pemerintahan sudah sepatutnya demikian
Dari Ju Cheng Ming bisa diketahui bahwa pada zaman Tiongkok kuno 2000 tahun lebih yang lalu, orang-orang sudah jauh hari menegakkan etika olah raga yang positif, selain menuntut semangat kompetisi yang adil sportif bahkan terhadap wasit dan pemain mensyaratkan moral yang ketat dan standard karakter. Dewasa ini persepakbolaan Tiongkok menghadapi etika bobrok kecurangan wasit dan main sabun, sehingga tidak bergairah dan lesu supporter, hal tersebut diatas semestinya berefek sebagai peringatan dan panutan yang baik.
Zaman dinasti Tang (baca: Dang) adalah perkembangan Cu Ju Tiongkok yang paling berjaya. Orang zaman Tang melakukan perombakan besar terhadap Ju (bola), yaitu bola dari berinti padat dirubah berinti kosong, kantongan udara menggantikan material pengisi, disebut Qi Qiu (baca: Ji Jiu = bola udara). Bola yang direvolusi bertambah daya pantulnya, sehingga dalam bidang teknik dan strategi sepak bola memperoleh lonjakan besar, telah membuat sepak bola semakin bervariatif. Orang Tang juga mengganti pintu bola dengan Ju Shi ( ruang bola), pada kedua ujung lapangan didirikan tonggak yang dipasangi jala yang membentuk pintu bola / gawang. Cu Ju Tiongkok juga menyebar ke Jepang pada saat zaman Tang tersebut.
Pada zaman dinasti Song ditandai dengan pendirian tim Cu Ju dari kalangan rakyat, Perkumpulan Qi Yun, Perkumpulan Yuan, dll adalah Perkumpulan Bola yang tersohor kala itu. Perkumpulan-perkumpulan tersebut memiliki teknik yang handal dan tendangan beragam, selain itu giat mempromosikan kegiatan Cu Ju dan pertandingannya. Buku (Hui Chen Hou Lu = > Catatan akhir tentang Menebar Debu) dari Wang Mingqing mencatat sbb: Ketika itu seseorang bernama Gao Qiu (baca: Kao Jiu) dari perkumpulan Yuan , karena memiliki teknik bola super, sampai diangkat menjadi Komandan Depan Istana oleh sang kaisar, boleh dibilang ia adalah bintang sepak bola pertama di dunia.
Yang patut disebut juga adalah pendiri dinasti Song / Song Tai Zu bernama Zhao Kuangyin, sangat menggemari “Cu Ju”, konon seni bolanya juga termasuk hebat. Para pelukis dari dinasti yang berlainan pernah membuat karya berthema Song Taizu bermain “Cu Ju”.
Namun Cu Ju sesampainya pada dinasti Ming mulai memudar. Pendiri dinasti Ming/ Ming Taizu pernah memerintahkan pelarangan prajurit bermain Cu Ju, bahkan ada prajurit karena melanggar larangan tersebut sehingga dipotong kaki kanannya. Dinasti Qing juga tidak melanjutkan kegiatan Cu Ju, yang membuatnya menuju kepunahan.
Di Jepang dikenal pula permainan semacam “tsu-chu” sekitar 500 – 600 tahun kemudian yang bernama Kemari, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Yunani dengan “episkyros”, Romawi (Italia) dengan “haspartum”, dan Perancis dengan “choule” bisa memperpanjang daftar yang membuktikan sepakbola adalah olah raga yang berusia sangat tua. Ada dugaan bahwa orang-orang Romawi membawa permainan itu ke Inggris. Tapi masih disangsikan apakah haspartum merupakan pendahulu sepak bola yang sekarang dikenal ini, sebab penduduk Celtic di Cronwall juga sudah mengenal permainan yang serupa yang disebut “hurling”. Waktu itu jelas belum ada peraturan yang baku. Orang boleh bermain tanpa jumlah yang pasti dan bukan hanya kaki, tetapi tanganpun boleh ikut memainkan bola. Bahkan boleh menendang tulang kering serta membawa lari bola. Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini, tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini.
Prakarsanya di mulai pada tahun 1863, tepatnya pada tanggal 26 Oktober, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernihkan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya. Pertemuan ini berhasil membentuk Football Association (FA) yang pertama walaupun berbuntut keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.
Setelah 6 tahun Football Association berjalan, permainan sepak bola semakin mendekati kesempurnaan, terutama setelah adanya keputusan yang melarang setiap pemegangan bola (bukan hanya melarikan). Di tahun kedelapannya (baca: FA), selain anggota yang bertambah menjadi 50 perkumpulan, kompetisi sepak bola yang pertama juga mulai digelar di bawah naungannya. Pertumbuhan sepak bola melaju begitu pesat di seantero jagat bahkan pada tahun 1879 sudah dikenal langkah-langkah sepakbola profesional di Darwin, yaitu dua pemainnya: John Love dan Fergus Suter, dilaporkan sebagai orang-orang pertama yang menerima bayaran dari bakatnya bermain sepakbola.
Setelah Football Association, segera menyusul di Nederland, the Scottisch FA (1873), The TA of Wales (1875), dan The Irish FA di Belfast, Selandia Baru (1891), Argentina (1893), Chili (1895), Swiss dan Belgia (1895) Italia (1898), Jerman dan Uruguay (1900), Hongaria (1901), dan Finlandia pada tahun 1907.
Pada tahun 1907, berdirilah Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) di Paris, Perancis atas prakarsa 7 negara, yaitu Perancis, Denmark, Belanda, Spanyol, Swedia dan Swiss. Dari tujuh anggota berkembang menjadi 36 pada tahun 1925, dan setelah diselingi Perang Dunia II, FIFA sudah diikuti oleh 73 anggota pada perebutan Piala Dunia II. Saat ini FIFA mempunyai anggota sebanyak 146.300.000 klub, 200.000 di antaranya berada di Eropa dengan sekitar 680.000 tim dan 22 juta pemain yang aktif.
Karena peminat olahraga ini sangat banyak (bahkan terbanyak di seluruh dunia), maka pengembangan olahraga ini dilakukan sangat pesat agar bisa menjadi olahraga yang sempurna, tidak ada kecurangan dan frekuensi cedera pemain kecil atau bahkan tidak ada sama sekali. Karena ada yang bilang bahwa sepak bola adalah olahraga “teraman” ke-5.
Sejarah Sepakbola
Menurut Bill Muray, pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan sejak awal Masehi. Saat itu, orang-orang di era Mesir Kuno sudah mengenal permainan membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Sejarah Yunani Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut episcuro, permainan menggunakan bola. Bukti itu tergambar pada relief-relief di dinding museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan paha.
Sepak bola juga disebut-sebut berasal dari daratan Cina. Dalam sebuah dokumen militer disebutkan, sejak 206 SM, pada masa pemerintahan Dinasti Tsin dan Han, orang-orang sudah memainkan permainan bola yang disebut tsu chu. Tsu mempunyai arti "menerjang bola dengan kaki". Sedangkan chu, berarti "bola dari kulit dan ada isinya". Mereka bermain bola yang terbuat dari kulit binatang dengan cara menendang dan menggiringnya ke sebuah jaring yang dibentangkan pada dua tiang.
Jepang pun tidak mau ketinggalan. Sejak abad ke-8, konon masyarakatnya sudah mengenal permainan ini. Mereka menyebutnya sebagai Kemari. Bolanya terbuat dari kulit kijang berisi udara.
Yang menarik, ada legenda pada abad pertengahan. Konon saat itu, seluruh desa mengikuti satu permainan bola. Bola yang terbuat dari tengkorak, ditendang satu diantara warga ke arah desa tetangga. Kemudian, oleh si penerima bola di desa itu, bola dilanjutkan ditendang ke desa selanjutnya.
Sepak bola juga disebut-sebut berasal dari daratan Cina. Dalam sebuah dokumen militer disebutkan, sejak 206 SM, pada masa pemerintahan Dinasti Tsin dan Han, orang-orang sudah memainkan permainan bola yang disebut tsu chu. Tsu mempunyai arti "menerjang bola dengan kaki". Sedangkan chu, berarti "bola dari kulit dan ada isinya". Mereka bermain bola yang terbuat dari kulit binatang dengan cara menendang dan menggiringnya ke sebuah jaring yang dibentangkan pada dua tiang.
Jepang pun tidak mau ketinggalan. Sejak abad ke-8, konon masyarakatnya sudah mengenal permainan ini. Mereka menyebutnya sebagai Kemari. Bolanya terbuat dari kulit kijang berisi udara.
Yang menarik, ada legenda pada abad pertengahan. Konon saat itu, seluruh desa mengikuti satu permainan bola. Bola yang terbuat dari tengkorak, ditendang satu diantara warga ke arah desa tetangga. Kemudian, oleh si penerima bola di desa itu, bola dilanjutkan ditendang ke desa selanjutnya.
Rabu, 06 April 2011
Goa Selarang dan Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro, pejuang berkuda dari tanah Jawa dengan sorban putih dan senjata keris sering juga disebut dengan “Pahlawan Goa Selarong”. Karena Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan tempat keramat yang satu ini, yaitu Goa Selarong.
Gua Selarong adalah saksi sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro dan laskarnya yang digunakan sebagai markas gerilya melawan penjajahan Belanda. Dari area gua inilah Pangeran Diponegoro menyusun taktik dan berdiskusi dengan para pengikutnya dalam upaya melakukan serangan kepada Belanda. Selama bermarkas di Gua Selarong, laskar Pangeran Diponegoro telah diserang tiga kali oleh Belanda, yaitu pada tanggal 25 Juli, 3 Oktober, dan 4 Oktober 1825. Peperangan yang terjadi antara Laskar Pangeran Diponegoro dan Belanda itu dikenal dengan nama Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun, yaitu pada tahun 1825 - 1830.
Pangeran Diponegoro (1785 - 1855) adalah putra sulung Sultan Hamengkubowono III (1769-1814). Pangeran Diponegoro tidak berambisi untuk menjadi raja dan lebih memilih hidup merakyat dan tinggal di Desa Tegal Rejo. Karena dikepung Belanda pada tanggal 20 Juli 1825 di Desa Tegal Rejo, maka Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya kemudian menyingkir ke Gua Selarong.
Gua Selarong terletak di Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari Kecamatan Pajangan, Bantul. Letaknya berada di selatan Kota Gudeg ini, kira-kira berjarak 14 km dari pusat kota atau jika menggunakan perjalanan darat akan memakan waktu sekitar 45 menit lamanya.
Gua Selarong terletak di deretan pegunungan kapur yang sejuk karena ditumbuhi oleh pepohonan rindang. Dalam kompleks wisata Gua selarong ini terdapat sejumlah obyek wisata yang bisa Anda nikmati. Begitu masuk area wisata ini, Anda akan melihat hamparan luas sebuah pelataran yang juga digunakan sebagai area parkir. Di sini Anda juga akan menemukan sebuah patung Pangeran Diponegoro di atas kuda dan juga peta lokasi tempat wisata tersebut.
Kompleks Goa Selarong terletak di lokasi perbukutan kapur setinggi kurang lebih 35 m yang dipenuhi oleh pepohonan yang labat nan rindang. Letaknya sangatlah curam, kemiringan bisa sekitar 45 derajat. Untuk mencapainya, siapapun orangnya harus meniti ratusan anak tangga sejauh 400 m untuk bisa sampai ke tempat itu.
Goa Selarong ini berbentuk sempit dengan lebar kira-kira hanya 3 m dan tinggi yang tak lebih dari 2 m, sedangkan panjang ke dalamnya cuma sekitar 3 m saja. Tidak ada yang istimewa dari bentuk Goa Selarong ini. Orang Jawa menyebut goa jenis seperti ini dengan sebutan goa buntet alias buntu tidak tembus berlubang. Jadi, goa ini merupakan cekungan cadas biasa saja tanpa ada tembusannya ke dalam.
Itulah sebabnya yang membuat mengapa Pangeran Diponegoro dan pasukan setianya akan sangat sulit ditangkap dan sama sekali tidak pernah tersentuh atau sekalipun terlihat oleh mata pasukan Belanda, jika sedang bersembunyi di Goa Selarong ini.
Walaupun pasukan Belanda telah sampai di kompleks tersebut, namun pasukan kompeni tetap saja tidak dapat melihat bahwa sebenarnya terdapat ratusan pasukan Diponegoro bersembunyi di dalam Goa Selarong. Pasukan kompeni hanya berputar-putar di lokasi dan hanya bisa melihat gunungan batu cadas yang tak berpenghuni.
Tak heran jika kemudian untuk memancing seorang Diponegoro agar mau keluar dari Goa Selarong, kompeni Belanda melalui Jendral De Kock harus melakukan politik adu domba dengan cara mengajak berunding Diponegoro di Magelang pada sekitar tahun 1830, untuk kemudian menangkap dan mengasingkannya ke Makasar, Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya di tahun 1855.
Keramatnya kompleks Goa Selarong dengan pintu goa gaibnya yang bernama Goa Selarong ini memang sudah tersohor bagi telinga masyarakat Jawa hingga saat ini. Kompleks ini pun terbilang wingit alias angker, pada malam-malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon, terkadang dari dalam perut Goa Selarong terdengar lantunan gending-gending Jawa yang sedang ditabuh. Ada suaranya, namun tidak ada wujudnya.
Konon diyakini, pada kedua hari tersebut para gaib sedang berkumpul di tempat-temat keramat, termasuk di Goa Selarong ini. Pada saat itulah, dari malam hari sampai subuh tebaran aroma seperti dupa dan kemenyan pasti sangat jelas menyeruak dari Goa Selarong ini.
Selain gua, Anda juga bisa mengunjungi sebuah sumber air yang bernama Sendang Manik Maya. Untuk menuju sendang ini, Anda harus melewati jembatan kecil di atas kali kering yang merupakan tempat mengalirnya limpshsn sir terjun di saat hujan. Selain itu Anda juga harus berjalan kaki melewati jalan setapak sejauh kurang lebih 100 meter untuk sampai ke sendang. Sendang ini diyakini sebagai sumber mata air abadi yang dahulu digunakan oleh rombongan Pangeran Diponegoro untuk mandi dan bersuci. Tidak jauh dari Sendang Manik Maya, terdapat sebuah sumber mata air lainnya yang dikenal dengan nama Sendang Umbul Mulya. Sendang ini merupakan mata air untuk memasak dan mencuci.
Gua Selarong juga dikenal sebagai obyek wisata religius. Para pelaku wisata religius biasanya melakukan ritual meditasi di Gua Selarong. Selain itu Gua Selarong juga menjadi tempat wisata budaya. Setiap satu tahun sekali di bulan Juli di Gua Selarong diadakan acara Grebeg Gua Selarong untuk mengenang waktu hijrahnya Pangeran Diponegoro ke Gua Selarong sekaligus sebagai peringatan hari jadi Kabupaten Bantul.
Tugu Pahlawan - Surabaya
Salah satu bangunan yang menjadi kebanggaan kota Surabaya adalah Tugu Pahlawan. Tugu yang menjadi peringatan terhadap perjuangan bangsa Indonesia dapat menjadi tempat wisata yang menarik, terlebih untuk Anda yang menyukai sejarah atau untuk mengenalkan sejarah kepada keluarga. Di sini, Anda dapat melihat Tugu Pahlawan, secara langsung juga berkunjung ke Museum 10 Nopember yang ada dalam kawasan ini.
Tugu Pahlawan terletak persis di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Monument yang berbentuk paku terbalik setinggi 40,5 meter ini dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektar, merupakan bekas Kantor Raad Van Justititie atau Gedung Pengadilan Tinggi pada masa penjajahan Belanda.
Tujuan pembangunan monument ini untuk mengenang sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan dalam momen bersejarah 10 Nopember 1945 di Surabaya.
Presiden Pertama RI yaitu Ir. Soekarno, didampingi Walikota Surabaya Doel Arnowo, melakukan peletakan batu pertama pada tanggal 10 Nopember 1951 dan setahun kemudian Monumen Tugu Pahlawan diresmikan oleh Presiden, didampingi Walikota Surabaya, R Moestadjab Soemowidigo.
Pintu gerbang menuju area Monumen Tugu Pahlawan dibangun Candi Bentar. Memasuki areal Monumen Tugu Pahlawan mulai tempat parkir hingga pintu masuk Monumen, kita bisa melihat delapan relief yang menggambarkan perkembangan kota Surabaya pada jaman dahulu hingga saat ini.
Museum yang dibangun pada tahun 200 ini dibangun untuk mendukung keberadaan Tugu Pahlawan sebagai monument bersejarah. Didalamnya tersimpan koleksi-koleksi sejarah, seperti peta-peta yang menggambarkan invasi tentara Tar-Tar ke Hujung Galuh dan ada juga berbagai jenis senjata yang digunakan pada Pertempuran 10 Nopember 1945.
Museum ini juga menyimpan beberapa peninggalan milik Bung Tomo dan bendera lascar pejuang ketika pertempuran bersejarah itu terjadi.
Selain itu disediakan ruang Auditorium Visual untuk menyaksikan film dokumenter tentang Pertempuran 10 Nopember 1945 yang berdurasi 25 menit. Dalam satu hari, pemutaram film dilakukan sebanyak enam kali yang disertai dengan peta maket Surabaya pada tahun 1945, lengkap dengan system pencahayaan dan detector asap.
Tujuan pembangunan monument ini untuk mengenang sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan dalam momen bersejarah 10 Nopember 1945 di Surabaya.
Presiden Pertama RI yaitu Ir. Soekarno, didampingi Walikota Surabaya Doel Arnowo, melakukan peletakan batu pertama pada tanggal 10 Nopember 1951 dan setahun kemudian Monumen Tugu Pahlawan diresmikan oleh Presiden, didampingi Walikota Surabaya, R Moestadjab Soemowidigo.
Pintu gerbang menuju area Monumen Tugu Pahlawan dibangun Candi Bentar. Memasuki areal Monumen Tugu Pahlawan mulai tempat parkir hingga pintu masuk Monumen, kita bisa melihat delapan relief yang menggambarkan perkembangan kota Surabaya pada jaman dahulu hingga saat ini.
Museum yang dibangun pada tahun 200 ini dibangun untuk mendukung keberadaan Tugu Pahlawan sebagai monument bersejarah. Didalamnya tersimpan koleksi-koleksi sejarah, seperti peta-peta yang menggambarkan invasi tentara Tar-Tar ke Hujung Galuh dan ada juga berbagai jenis senjata yang digunakan pada Pertempuran 10 Nopember 1945.
Museum ini juga menyimpan beberapa peninggalan milik Bung Tomo dan bendera lascar pejuang ketika pertempuran bersejarah itu terjadi.
Selain itu disediakan ruang Auditorium Visual untuk menyaksikan film dokumenter tentang Pertempuran 10 Nopember 1945 yang berdurasi 25 menit. Dalam satu hari, pemutaram film dilakukan sebanyak enam kali yang disertai dengan peta maket Surabaya pada tahun 1945, lengkap dengan system pencahayaan dan detector asap.
Tugu Pahlawan, adalah sebuah monumen yang menjadi markah tanah Kota Surabaya. Monumen ini setinggi 45 yard (40.5 meter) berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia
Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.
Monumen Tugu Pahlawan menjadi pusat perhatian setiap tanggal 10 November mengenang peristiwa pada tahun 1945 ketika banyak pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan.
Monumen ini berada di tengah-tengah kota di Jalan Pahlawan Surabaya, dan di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur. Tugu Pahlawan merupakan salah satu ikon Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Tugu ini merupakan titik 0 (nol) kilometer untuk kota Surabaya. Berdiri di atas tanah lapang seluas 1,3 hektar, dan secara administratif berada di wilayah Kelurahan Alun-Alun Chontong, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya.
Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen yang terletak di Jalan Pahlawan Surabaya ini. Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. Kemudian ia meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.
Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Walikota Surabaya, Doel Arnowo. Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.
Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang kemudian diteruskan oleh Pemborong Saroja. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini, diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 Nopember 1952.
Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Walikota Surabaya, Doel Arnowo. Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.
Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang kemudian diteruskan oleh Pemborong Saroja. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini, diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 Nopember 1952.
Di bawah tanah lahan Tugu Pahlawan ini terdapat sebuah museum untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang berjuang di Surabaya, di museum ini juga terdapat foto-foto dokumentasi pembangunan Tugu Pahlawan.
Tugu Muda - Semarang
Pulang dari Kalimantan ke Jogja satu sebaliknya jika naik kapal Laut selalu Semarang yang menjadi tujuan berlabuhnya kapal yaitu pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Tak lengkap jika menceritakan kota Semarang tanpa menceritakan Icon Kota Semarang yaitu Tugu Muda.
Tugu Muda adalah sebuah monumen di Semarang, berlokasi di pusat bundaran tugu muda. Monumen ini dibangun di tahun 1953 untuk mengenang heroisme pejuang Semarang melawan penjajah Jepang yang dikenal sebagai pertempuran selama lima hari di kota Semarang dari tanggal 14-19 Oktober 1945.
Merupakan tugu yang berpenampang segi lima. Terdiri dari bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pasa sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu. Bangunan yang berada disekitar tugumuda adalah lawang sewu, Kantor BDNI, bakal Rumah Dinas Gubernur Jateng, Museum Manggala Bakti dan Katedral.
Bermula dari ide untuk mendirikan monumen yang memperingati peristiwa Pertempuran Lima hari di Semarang. Pada tanggal 28 Oktober 1945, Gubbernur Jawa Twngah, Mr. Wongsonegoro meletakkaan batu pertama pada lokasi yang direncanakan semula yaitu didekat Alun-alun. Namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian tahun 1949, oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI), diprakarsai ide pembangunan tugu kembali, namun karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana.
Tahun 1951, Walikota Semarang, Hadi Soebeno Sosro Wedoyo, membentuk Panitia Tugu Muda, dengan rencana pembangunan tidak lagi pada lokasi alun-alun, tetapi pada lokasi sekarang ini. Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro. Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari kaliuang dan Paker. Tanggal 10 Nopember 1951, diletakkan batu pertama oleh Gubernur Jateng Boediono dan pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Tugu Muda diresmikaan oleh Soekarno, Presiden Republik Indonesia. Hingga sekarang, cukup banyak perubahan yang telah dilakukan terhadap arca di sekitar tugu muda, antatra lain pembuatan taman dan kolam.
Bangunan ini sampai sekarang masih berdiri tegak di tengah persimpangan Jalan Sutomo, Jalan Pandanaran, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Soegiyapranoto, para pejuang dari Semarang (waktu itu) pantang menyerah, penjajahan Jepang dilawan sampai titik darah penghabisan, dan heroisme masyarakat setempat ketika melawan penjajah dikenal sebagai pertempuran lima hari dari tanggal 14-18 Oktober 1945.
Menurut dia, Tugu Muda Semarang berbentuk lilin mengandung makna semangat juang para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI tidak akan pernah padam.
Pada kaki tugu ini terdapat relief yang menggambarkan kesengsaraan rakyat Indonesia saat adanya penjajahan Jepang.
Tugu Muda Semarang, oleh Pemprov Jateng dijadikan salah satu di antara beberapa daya tarik wisata yang ada di Kota Semarang.
Selain bangunan tugu tersebut, beberapa gedung-gedung lama peninggalan Belanda yang ada di sudut-sudut Kota Semarang, dan kini ada yang dijadikan hotel, rumah tinggal dan perkantoran juga dijadikan salah satu daya tarik wisata bagi daerah ini.
Gedung-gedung lama itu di antaranya dapat ditemui di sekitar Johar dalam jumlah yang masih banyak.
Karena banyaknya gedung-gedung tua ini, maka kawasan Johar disebut juga sebagai "Kawasan Kota Lama”
Selasa, 05 April 2011
Tugu Jogja
Jogjakarta, sebuah daerah dimana saya dilahirkan, dibesarkan serta semua pendidikan saya samapai saat ini saya jalani disana. Ada sebuah Icon dari Jogja yang menjadikannya titik nol Jogja yaitu Tugu Jogja.
Tugu sebagai landmark paling terkenal dari Kota Yogyakarta. Pada awalnya bentuk tugu adalah Golong-Gilig yang emiliki makna satu kesatuan tekad cipta, rasa dan karsa. sebagai salah satu poros imajiner antasa laut selatan, kraton, dan Gunung Merapi. dibangun sekutar setahun setelah kraton dibangun.
Tugu golong gilig atau tugu pal putih (white pole) merupakan penanda batas utara kota tua Yogyakarta. Semula bangunan ini berbentuk seperti tongkat bulat (gilig) dengan sebuah bola (golong) diatasnya. Bangunan ini mengingatkan pada Washington Monument di Washington DC. Pada tahun 1867 bangunan ini rusak (patah) karena gempa bumi yang juga merusakkan situs Taman Sari. Pada masa pemerintahan Sultan HB VII bangunan ini didirikan kembali. Namun sayangnya dengan bentuk berbeda seperti yang dapat disaksikan sekarang. Ketinggiannya pun dikurangi dan hanya sepertiga tinggi bangunan aslinya. Lama-kelamaan nama tugu golong gilig dan tugu pal putih semakin dilupakan seiring penyebutan bangunan ini sebagai Tugu Yogyakarta.
Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk Golong-Gilig tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh dan pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja atau sekadar berfoto denganya. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.
Tugu sebagai landmark paling terkenal dari Kota Yogyakarta. Pada awalnya bentuk tugu adalah Golong-Gilig yang emiliki makna satu kesatuan tekad cipta, rasa dan karsa. sebagai salah satu poros imajiner antasa laut selatan, kraton, dan Gunung Merapi. dibangun sekutar setahun setelah kraton dibangun.
Tugu golong gilig atau tugu pal putih (white pole) merupakan penanda batas utara kota tua Yogyakarta. Semula bangunan ini berbentuk seperti tongkat bulat (gilig) dengan sebuah bola (golong) diatasnya. Bangunan ini mengingatkan pada Washington Monument di Washington DC. Pada tahun 1867 bangunan ini rusak (patah) karena gempa bumi yang juga merusakkan situs Taman Sari. Pada masa pemerintahan Sultan HB VII bangunan ini didirikan kembali. Namun sayangnya dengan bentuk berbeda seperti yang dapat disaksikan sekarang. Ketinggiannya pun dikurangi dan hanya sepertiga tinggi bangunan aslinya. Lama-kelamaan nama tugu golong gilig dan tugu pal putih semakin dilupakan seiring penyebutan bangunan ini sebagai Tugu Yogyakarta.
Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk Golong-Gilig tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh dan pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja atau sekadar berfoto denganya. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.
Tugu Katulistiwa
Dua Setengah tahun sudah saya berada di Kalimantan Barat dengan satu tahun berada di kota Pontianak. Banyak hal yang sudah saya lihat di kota ini. Salah satunya adalah Tugu Katulistiwa yang merupakan Icon dari kota Pontianak.
Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.
Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung.
Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa : Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut :
a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.
c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.
d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.
Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter.
Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.
Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out titik nol garis khatulistiwa dikoreksi
Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur
Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia.
Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.
Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.
Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan
Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.
Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung.
Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa : Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut :
a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.
c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.
d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.
Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter.
Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.
Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out titik nol garis khatulistiwa dikoreksi
Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur
Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia.
Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.
Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.
Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan
Senin, 04 April 2011
Lemuria, dimanakah benua ini ?
Lemuria/Mu merupakan peradaban kuno yg muncul terlebih dahulu sebelum peradaban Atlantis. Para peneliti menempatkan era peradaban Lemuria disekitar periode 75000 SM - 11000 SM. Jika kita lihat dari periode itu,Bangsa Atlantis dan Lemuria seharusnya pernah hidup bersama selama ribuan tahun lamanya.
Gagasan Benua Lemuria terlebih dahulu eksis dibanding peradaban Atlantis dan Mesir Kuno dapat kita peroleh penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le Plongeon (1826-1908),seorang peneliti dan penulis pada abad ke -19 yang mengadakan penelitian terhadap situs2 purbakala peninggalan Bangsa Maya di Yucatan. Informasi tsb diperoleh setelah keberhasilannya menterjemahkan beberapa lembaran catatan kuno peninggalan Bangsa Maya.
Dari hasil terjemahan,diperoleh beberapa informasi yang menunjukkan hasil bahwa Bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada peradaban nenek moyang mereka (Atlantis). Namun dikatakan juga,bahwa mereka pernah hidup dalam periode waktu yang sama, sebelum kemudian sebuah bencana gempa bumi dan air bah dasyat meluluh lantahkan dan menenggelamkan kedua peradaban maju masa silam tersebut.
Hingga saat ini,letak dari Benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah kontroversi,namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti,kemungkinan besar peradaban tsb berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia sekarang).
Banyak arkeolog memepercayai bahwa Easter Island yang misterius itu merupakan bagian dari Benua Lemuria.Hal ini jika dipandang dari ratusan patung batu kolosal yang mengitari pulau dan beberapa catatan kuno yang terukir pada beberapa artifak yang mengacu pada bekas-bekas peninggalan peradaban maju pada masa silam.
Mitologi turun temurun para suku Maori dan Samoa yang menetap dipulau-pulau disekitar Samudera Pasifik juga menyebutkan bahwa dahlulu kala pernah ada sebuah daratan besar besar di Pasifik yang yang hancur diterjang oleh gelombang pasang air laut dasyat (tsunami),namun sebelumnya bangsa mereka telah hancur terlebih dahulu akibat peperangan.
Keadaan Lemuria sendiri digambarkan sangat mirip dengan peradaban Atlantis,memiliki tanah yang subur,masyarakat yang makmur dan penguasaan terhadap beberapa cabang ilmu pengetahuan yang mendalam.faktor-faktor tersebut tentunya menjadi sebuah landasan pokok bagi Bangsa Lemuria untuk berkembang pesat menjadi sebuah peradaban yang maju dan memiliki banyak ahli/ilmuwan yang dapat menciptakan suatu trobosan baru dalam Ilmu pengetahuan dan Teknologi mereka.
Seperti banyak dikemukakan oleh beberapa pakar spiritual dan arkeologi ,bahwa bangsa Lemurian dan Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.
Edgar Cayce,Seorang spiritualis Amerika melalui channelingnya berkali2 mengungkapkan hal yang sama.
Kuil2 Lemuria dan Atlantis menempatkan sebuah crystal generator raksasa yang dikelilingi crystal2 lain, baik sebagai sumber tenaga maupun guna berbagai penyembuhan.
Banyak info mengenai atlantis dan lemurian diperoleh dengan men-channel crystal2 'old soul' yang pernah digunakan pada kedua jaman ini.
Beberapa Monument Batu misterius yang berhasil ditemukan dibawah perairan Yonaguni,Jepang,mungkinkah monument2 ini merupakan sisa-sisa dari peradaban Lemuria?
Namun, berbeda dengan bangsa Atlantis yang lebih mengandalkan fisik,teknologi dan gemar berperang,Bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai manusia-manusia dengan tingkat evolusi dan spiritual yang tinggi,sangat damai dan bermoral.
Menurut Edgar Cayce,munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat begitulah) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa didunia,diantaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat.
Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik,invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan.
Karena sifat dari Lemurian yang menjunjung tinggi konsep perdamaian,mereka tidak dibekali dengan teknologi perang secanggih bangsa Atlantean,sehingga dalam sekejap,Lemuria pun jatuh ketangan Atlantis.
Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak,ahirnya banyak meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip bumi,mungkin keberadaan mereka saat ini belum kita ketahui (ada yang mengatakan saat ini mereka tinggal di Planet Erra/Terra digugus bintang Pleiades)
Mungkin kisah para Lemurian yang meninggalakan bumi untuk menetap diplanet lain ini sedikit tidak masuk akal,tapi perlu kita ketahui bahwa teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju,penguasaan teknologi penjelajahan luar angkasa mungkin telah dapat mereka realisasikan dijauh2 hari.Tentunya penguasaan teknologi yang sama pada era peradaban kita ini,belum bisa disandingkan dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan.
Dari sekelumit kisah yang aq uraikan diatas,dapat ditarik kesimpulan bahwa para Lemurian tidak musnah oleh bencana gempa bumi dan air bah seperti yang dialami oleh para Atlantean,namun karena peranglah yang membuat sebagain dari mereka berguguran.
Sementara semenjak kekalahannya oleh bangsa Atlantis,otomatis wilayah Lemuria dikuasai oleh para Atlantean,sampai saat ahirnya daratan itu diterpa oleh bencana yang sangat dasyat yang kemudian menenggelamkannya bersama beberapa daratan lainnya,termasuk diantaranya Atlantis itu sendiri.
Gagasan Benua Lemuria terlebih dahulu eksis dibanding peradaban Atlantis dan Mesir Kuno dapat kita peroleh penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le Plongeon (1826-1908),seorang peneliti dan penulis pada abad ke -19 yang mengadakan penelitian terhadap situs2 purbakala peninggalan Bangsa Maya di Yucatan. Informasi tsb diperoleh setelah keberhasilannya menterjemahkan beberapa lembaran catatan kuno peninggalan Bangsa Maya.
Dari hasil terjemahan,diperoleh beberapa informasi yang menunjukkan hasil bahwa Bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada peradaban nenek moyang mereka (Atlantis). Namun dikatakan juga,bahwa mereka pernah hidup dalam periode waktu yang sama, sebelum kemudian sebuah bencana gempa bumi dan air bah dasyat meluluh lantahkan dan menenggelamkan kedua peradaban maju masa silam tersebut.
Hingga saat ini,letak dari Benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah kontroversi,namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti,kemungkinan besar peradaban tsb berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia sekarang).
Banyak arkeolog memepercayai bahwa Easter Island yang misterius itu merupakan bagian dari Benua Lemuria.Hal ini jika dipandang dari ratusan patung batu kolosal yang mengitari pulau dan beberapa catatan kuno yang terukir pada beberapa artifak yang mengacu pada bekas-bekas peninggalan peradaban maju pada masa silam.
Mitologi turun temurun para suku Maori dan Samoa yang menetap dipulau-pulau disekitar Samudera Pasifik juga menyebutkan bahwa dahlulu kala pernah ada sebuah daratan besar besar di Pasifik yang yang hancur diterjang oleh gelombang pasang air laut dasyat (tsunami),namun sebelumnya bangsa mereka telah hancur terlebih dahulu akibat peperangan.
Keadaan Lemuria sendiri digambarkan sangat mirip dengan peradaban Atlantis,memiliki tanah yang subur,masyarakat yang makmur dan penguasaan terhadap beberapa cabang ilmu pengetahuan yang mendalam.faktor-faktor tersebut tentunya menjadi sebuah landasan pokok bagi Bangsa Lemuria untuk berkembang pesat menjadi sebuah peradaban yang maju dan memiliki banyak ahli/ilmuwan yang dapat menciptakan suatu trobosan baru dalam Ilmu pengetahuan dan Teknologi mereka.
Seperti banyak dikemukakan oleh beberapa pakar spiritual dan arkeologi ,bahwa bangsa Lemurian dan Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.
Edgar Cayce,Seorang spiritualis Amerika melalui channelingnya berkali2 mengungkapkan hal yang sama.
Kuil2 Lemuria dan Atlantis menempatkan sebuah crystal generator raksasa yang dikelilingi crystal2 lain, baik sebagai sumber tenaga maupun guna berbagai penyembuhan.
Banyak info mengenai atlantis dan lemurian diperoleh dengan men-channel crystal2 'old soul' yang pernah digunakan pada kedua jaman ini.
Beberapa Monument Batu misterius yang berhasil ditemukan dibawah perairan Yonaguni,Jepang,mungkinkah monument2 ini merupakan sisa-sisa dari peradaban Lemuria?
Namun, berbeda dengan bangsa Atlantis yang lebih mengandalkan fisik,teknologi dan gemar berperang,Bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai manusia-manusia dengan tingkat evolusi dan spiritual yang tinggi,sangat damai dan bermoral.
Menurut Edgar Cayce,munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat begitulah) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa didunia,diantaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat.
Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik,invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan.
Karena sifat dari Lemurian yang menjunjung tinggi konsep perdamaian,mereka tidak dibekali dengan teknologi perang secanggih bangsa Atlantean,sehingga dalam sekejap,Lemuria pun jatuh ketangan Atlantis.
Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak,ahirnya banyak meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip bumi,mungkin keberadaan mereka saat ini belum kita ketahui (ada yang mengatakan saat ini mereka tinggal di Planet Erra/Terra digugus bintang Pleiades)
Mungkin kisah para Lemurian yang meninggalakan bumi untuk menetap diplanet lain ini sedikit tidak masuk akal,tapi perlu kita ketahui bahwa teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju,penguasaan teknologi penjelajahan luar angkasa mungkin telah dapat mereka realisasikan dijauh2 hari.Tentunya penguasaan teknologi yang sama pada era peradaban kita ini,belum bisa disandingkan dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan.
Dari sekelumit kisah yang aq uraikan diatas,dapat ditarik kesimpulan bahwa para Lemurian tidak musnah oleh bencana gempa bumi dan air bah seperti yang dialami oleh para Atlantean,namun karena peranglah yang membuat sebagain dari mereka berguguran.
Sementara semenjak kekalahannya oleh bangsa Atlantis,otomatis wilayah Lemuria dikuasai oleh para Atlantean,sampai saat ahirnya daratan itu diterpa oleh bencana yang sangat dasyat yang kemudian menenggelamkannya bersama beberapa daratan lainnya,termasuk diantaranya Atlantis itu sendiri.
Kandis - Kerajaan tertua di Indonesia yang belum masuk buku sejarah
Setahu saya sebelumnya dan ketika saya tanyakan pada siswa-siswa SMP atau SMA tentang kerajaan tertua di Indonesia sampai sekarang meraka masih menjawab Kerajaan Kutai. tetapi setelah perkenalan saya dengan mbah Google saya jadi tahu ada sebuah kerajaan sebelum Kutai yang bernama kerjaan Kandis.
Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.
Sejarah
Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 Sebelum Masehi, mendahului berdirinya kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung. Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Marapi (Sumatera Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.
Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).
Dhamna merupakan nama istana Kerajaan Kandis. Secara turun-temurun cerita/tombonya masih tetap ada disampaikan dari generasi ke generasi. Masyarakat Lubuk Jambi meyakini istana ini masih ada, namun tertimbun dan sudah tertutupi oleh hutan yang lebat, atau lenyap dari pandangan manusia. Dalam ceritanya lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.
Namun sampai saat ini belum pernah melakukan penelusuran ke lokasi yang dimaksud. Diyakini Istananya masih utuh karena peradaban Kandis sudah sangat maju, peralatannya terbuat dari emas, perak dan perunggu.
Cerita Istana Dhamna mirip dengan cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju. Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.
Atlantis itu artinya : Tanahnya Atlas - Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan, yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat berdasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan kekhilafan, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditantang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.
Lenyapnya Negeri Atlas disebabkan karena peristiwa besar terjadi, yaitu terjadinya letusan besar dari dua gunung berapi (pilar) yang mengapit, yaitu Krakatoa dan Toba. Saking dahsyatnya seluruh bumi berguncang hebat sehingga menimbulkan tsunami yang maha dahsyat, lebih hebat dari pada tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004. Gunung krakatoa dan toba adalah gunung prasejarah yang berukuran sangat besar, gunung krakatoa sekarang dan danau toba adalah kaldera raksasa yang tercipta akibat letusan tersebut. Letusan gunung toba sampai saat ini belum tau pasti kapan terjadinya, namun letusan Karaktoa yang paling dahsyat diketahui terjadi pada tahun 1883 M (puncak letusan Krakatoa).
Istana Dhamna menurut tombo/cerita bukan tenggelam ke dasar lautan, akan tetapi diduga kuat tertimbun akibat abu vulkanik dari dua gunung yang bersamaan meletus. Lokasi Istana Dhamna tersebut adalah di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Apakah Istana Dhamna yang dimaksud oleh Plato sebagai Benua Atlantik? Suatu pertanyaan yang belum terjawab.
Pulau Sumatera dalam Lintasan Sejarah
Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Atlas, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.
Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka jelas daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka diperkirakan adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakar yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih, sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.
Istana Dhamna Sebagai Pusat Kerajaan Kandis
Ratusan tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi oleh Pendatang yang kurang jelas asal usulnya. Populasi penduduk makin lama makin berkembang, yang akhirnya memerlukan suatu aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian berdirilah Kerajaan Kandis di Bukit Bakar yang diperintah oleh Raja Darmaswara yang disingkat dengan Daswara. Raja Darmaswara dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung serta Mentri Perdagangan. Darmaswara membangun sebuah istana yang megah sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama dengan Istana Dhamna.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dari hasil bumi seperti emas, perak, dan lain-lain. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Raja Darmaswara memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Malaka oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka selama berabad-abad sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan sejarah Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Malaka dan Kepulauan Riau.
Raja Darmaswara memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain diantaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi (Sumatra Barat sekarang).
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) dimana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan. Kedua Tokoh inilah yang menjadi Tokoh Legendaris Minangkabau.
Setelah kerajaan Kandis mengalahkan Kerajaan Koto Alang, Kandis memindahkan pusat pemerintahannya ke Taluk Kuantan oleh Raja Darmaswara (tidak diketahui Raja Darmaswara yang ke berapa). Pemindahan pusat pemerintahan Kandis ini disebabkan oleh bencana alam (tidak diketahui tahun terjadinya) yang mengakibatkan Istana Dhamna hilang tertimbun tanah atau mungkin oleh perbuatan makhluk halus yang menghilangkan istana dari pandangan manusia.
Istana Dhamna yang hilang ini pernah diperlihatkan pada tahun 1984 kepada 7 (tujuh) orang Lubuk Jambi yang waktu itu mencari goa sarang layang-layang (walet) yang dipimpin oleh seorang guru Tharekat yang bergelar Pokiah Lunak. Mereka melihat istana itu lengkap dengan pagar batu disekelilingnya. Pada tahun 1986 untuk kedua kalinya pagar istana diperlihatkan kepada tiga orang yang sedang mencari rotan/manau. Berita penemuan Istana ini menyebar dan besok harinya banyak penduduk pergi ingin melihatnya, namun tidak ditemukan lagi. Begitulah sebagai bukti istana yang hilang yang bernama Istana Dhamna sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Kandis, satu kerajaan yang tertua di Indonesia.
Pada tahun 1375 M Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Ketemenggungan dan beberapa orang lainnya hilir berakit kulim sebagai napak tilas pertama menelusuri negeri asal mereka melalui sungai keruh sesuai dengan peninggalan sejarah dari leluhurnya Dt. Perpatih Nan Sabatang yang pertama pindah ke Sumatra Barat. Dalam pelaksanaan hilir berakit tersebut banyak kesulitan karena sungai masih sempit banyak kayu dan akar yang menjuntai ke sungai, sehingga rakit sering tersangkut. Untuk mengelakkan halangan ini Dt. Perpatih Nan Sabatang selalu memerintahkan kuak-kan-tan, yang akhirnya Dt. Perpatih Nan Sabatang merubah nama Sungai Keruh menjadi Batang Kuantan yang berasal dari kata kuak-kan-tan.
Setelah mereka sampai di Kerajaan Kandis Dt. Perpatih Nan Sabatang menukar nama Kerajaan Kandis dengan Kerajaan Kuantan yang pada waktu itu kerajaan Kandis diperintah oleh tiga Orang Godang, yaitu Dt. Bandaro Lelo Budi dari Kari, Dt. Pobo dari Kopah dan Dt. Simambang dari Sentajo yang selanjutnya dikenal dengan Tri Buana. Pemerintahan dipegang oleh Orang Godang disebabkan karena terputusnya Putra Mahkota dari Raja Darmaswara.
Dt. Perpatih Nan Sabatang mengadakan pertemuan dengan ketiga Orang Godang tersebut serta menghadirkan pemuka masyarakat lainnya di Balai Tanah Bukik Limpato Inuman untuk memusyawarahkan persyaratan berdirinya satu Nagori di daerah Kuantan.
Pada tahun 1425 M Kerajaan Kuantan menerima tamu kehormatan yang berasal dari Kerajaan Chola dari India Selatan, yaitu Natan Sang Sita Sangkala dengan julukan Sang Sapurba. Sang Sapurba kawin di Semenanjung Malaka dengan Putri Kerajaan Sriwijaya yang bernama Putri Lebar Daun dan mendapatkan anak empat orang yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka, Putri Candra Dewi dan Putri Bilal Daun. Sesampainya di Kerajaan Kuantan Sang Sapurba diminta oleh Dt. Bandaro Lelo Budi, Dt. Pobo dan Dt. Simambang menjadi raja di Kerajaan Kuantan. Sang Sapurba menerima tawaran tersebut.
Kerajaan Kuantan yang berpusat di Sintuo dibawah pemerintahan Sang Sapurba tidak banyak mencapai kemajuan. Peninggalan Raja Sang Sapurba hanya membuat danau Raja untuk pemeliharaan buaya di Paruso, membuat sumur dan kolam raja yang sampai sekarang masih ada bukti peninggalan Sang Sapurba tersebut. Disamping itu Sang Sapurba membunuh naga (ular) yang besar dengan keris Ganjar Iyas karena naga (ular) tersebut telah meresahkan masyarakat. Tempat mati naga (ular) tersebut diberi nama Punago artinya punah naga. Sedangkan Teluk Kuantan sekarang dijadikannya pelabuhan dagang.
Pada tahun 1435 M Sang Sapurba yang datang dengan Ceti Bilang Pandai di Kerajaan Kuantan mohon diri dan melanjutkan perjalanan ke hulu Batang Kuantan (Sumatra Barat sekarang atau Minangkabau) dan menuju Pagaruyung di Tanah Datar. Sepeninggal Sang Sapurba berdirilah kerajaan-kerajaan kecil di Kuantan dan hilang fungsi Orang Godang nan batigo yang membantu Sang Sapurba dalam kerajaan Kuantan.
Penyebaran keturunan kerajaan Kandis ke berbagai daerah di Sumatra ditandai dengan persamaan bahasa dengan bahasa orang Kuantan seperti ke Payakumbuh, Sibolga, Tapak Tuan, daerah Kampar, Jambi, Bengkulu dan daerah-daerah di Sumatra Barat.
Bukti-bukti Sejarah daerah Kuantan di Bawah Permukaan Laut
Bukti daerah Kuantan dibawah permukaan laut dimasa Sumatra bernama Pulau Perca diantaranya adalah:
• Adanya tempat bernama Rawang Ojung (kapal kayu), ditempat ini dahulunya Ojung menjatuhkan sauh/jangkar (di Desa Pulau Binjai sekarang).
• Adanya tempat bernama Rawang Ojung/Rawang Tekuluk (di Desa Sangau sekarang).
• Ditemukannya fosil kerang laut di Sosokpan pada tahun 1982 oleh penduduk waktu menggali tanah membuat kebun. Dinamakan tempat ini dengan Sosokpan maksudnya ditempat ini dahulunya binatang menyosok/minum ke tepi pantai.
• Adanya nama tempat bernama Sintongah di Desa Sangau, dimana Raja Sintong (Raja Sriwijaya) mengadakan ekspedisi ke Kerajaan Kancil Putih dan ditempat ini mereka menjatuhkan jangkar, sehingga tempat ini dinamakan Sintongah.
• Pada tahun 2000 M ditemukan batu laut di daerah Cengar oleh seorang Mahasiswa Arkeologi dari Universitas Hasanudin Makasar.
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Kandis:
• Bekas penambangan emas yang disebut dengan tambang titah, artinya diadakan penambangan emas atas titah Raja Darmaswara. Lokasinya dikaki Bukit Bakar bagian timur yang lobang-lobang bekas penambangan telah ditumbuhi kayu-kayuan.
• Adanya daerah yang bernama Muaro Tombang (Muara Tambang) yang terletak di sebelah hilir tambang titah.
• Istana Dhamna yang berlokasi di Bukit Bakar (belum terungkap).
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Koto Alang:
• Adanya tempat yang disebut Padang Candi di Dusun Botung (Desa Sangau), menandakan Kerajaan Koto Alang menganut agama Hindu. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya. Dilokasi tersebut ditemukan potongan-potongan batu bata candi.
• Dilain tempat telah berulang kali diadakan penggalian liar dari situs Kerajaan Koto Alang tanpa diketahui maksud dan tujuan oleh penduduk dan tanpa sepengetahuan Pemangku Adat dan Pemerintah. Penggalian tersebut dilakukan dimana diperkirakan letaknya istana Koto Alang di Dusun Botung tersebut.
• Pada tahun 1970-an banyak penemuan masyarakat yang mendulang emas seperti cincin, gelang, penjahit emas, dan mata pancing dari emas.
• Pada tahun 1967 ditemukan tutup periuk dari emas di dalam sungai Kuantan. Tutup periuk emas ini diambil oleh pihak yang berwajib dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Diperkirakana tutup periuk ini terbawa arus sungai yang berasal dari tebing yang runtuh disekitar Kerajaan Koto Alang.
• Pada tahun 2007 dilakukan penggalian oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah. Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.
• Adanya sungai yang mengalir dipinggir Padang Candi yang disebut dengan Sungai Salo yang berasal dari kata Raja Bukak Selo karena dikalahkan oleh Kerajaan Kandis.
• Adanya tempat bernama Lopak Gajah Mati sebelah selatan Pasar Lubuk Jambi. Tempat itu merupakan tempat Gajah Tunggal mati dibunuh oleh Raja Koto Alang yang dibunuh dengan lembing sogar jantan. Disebut Gajah Tunggal karena gading gajah tersebut hanya satu sebelah kiri kepalanya. Gading tersebut telah dijual pada tahun 1976 karena tidak tahu nilai sejarahnya. Didalam kepala gajah ditemukan sebuah mustika yang sangat indah sebesar bola pimpong. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah Mati dinamakan dengan Batang Simujur, artinya mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.
Bukti Kerajaan Kancil Putih
• Adanya ekspedisi Raja Sintong (Raja Sriwijaya) ke Kerajaan Kancil Putih, sehingga ada nama tempat Sintongah di Desa Sangau.
Demikianlah gambaran singkat tentang Pulau Atlas, Istana Dhamna, Kerajaan Kandis dan beberapa kerajaan yang pernah ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau (peta dan letak lokasinya dipegang oleh tim penelusuran peninggalan kerajaan Kandis yang dibentuk oleh Pemangku Adat Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal). Kalau Kerajaan Kandis ini Benua Atlantis yang dimaksud oleh Plato, berarti peninggalan Kerajaan Kandis termasuk warisan budaya dunia. Oleh karena itu partisipasi berbagai pihak (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemangku Adat dan masyarakat setempat) sangat menentukan dalam mengungkap kembali pusat peradaban dunia tersebut.
Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.
| Teori yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009). Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis. Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis. |
Sejarah
Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 Sebelum Masehi, mendahului berdirinya kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung. Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.
Ekonomi Kerajaan
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
Berdirinya Kerajaan Kancil Putih dan Kerajaan Koto Alang
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Marapi (Sumatera Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.
Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).
Dhamna merupakan nama istana Kerajaan Kandis. Secara turun-temurun cerita/tombonya masih tetap ada disampaikan dari generasi ke generasi. Masyarakat Lubuk Jambi meyakini istana ini masih ada, namun tertimbun dan sudah tertutupi oleh hutan yang lebat, atau lenyap dari pandangan manusia. Dalam ceritanya lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.
Namun sampai saat ini belum pernah melakukan penelusuran ke lokasi yang dimaksud. Diyakini Istananya masih utuh karena peradaban Kandis sudah sangat maju, peralatannya terbuat dari emas, perak dan perunggu.
Cerita Istana Dhamna mirip dengan cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju. Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.
Atlantis itu artinya : Tanahnya Atlas - Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan, yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat berdasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan kekhilafan, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditantang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.
Lenyapnya Negeri Atlas disebabkan karena peristiwa besar terjadi, yaitu terjadinya letusan besar dari dua gunung berapi (pilar) yang mengapit, yaitu Krakatoa dan Toba. Saking dahsyatnya seluruh bumi berguncang hebat sehingga menimbulkan tsunami yang maha dahsyat, lebih hebat dari pada tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004. Gunung krakatoa dan toba adalah gunung prasejarah yang berukuran sangat besar, gunung krakatoa sekarang dan danau toba adalah kaldera raksasa yang tercipta akibat letusan tersebut. Letusan gunung toba sampai saat ini belum tau pasti kapan terjadinya, namun letusan Karaktoa yang paling dahsyat diketahui terjadi pada tahun 1883 M (puncak letusan Krakatoa).
Istana Dhamna menurut tombo/cerita bukan tenggelam ke dasar lautan, akan tetapi diduga kuat tertimbun akibat abu vulkanik dari dua gunung yang bersamaan meletus. Lokasi Istana Dhamna tersebut adalah di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Apakah Istana Dhamna yang dimaksud oleh Plato sebagai Benua Atlantik? Suatu pertanyaan yang belum terjawab.
Pulau Sumatera dalam Lintasan Sejarah
Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Atlas, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.
Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka jelas daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka diperkirakan adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakar yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih, sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.
Istana Dhamna Sebagai Pusat Kerajaan Kandis
Ratusan tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi oleh Pendatang yang kurang jelas asal usulnya. Populasi penduduk makin lama makin berkembang, yang akhirnya memerlukan suatu aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian berdirilah Kerajaan Kandis di Bukit Bakar yang diperintah oleh Raja Darmaswara yang disingkat dengan Daswara. Raja Darmaswara dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung serta Mentri Perdagangan. Darmaswara membangun sebuah istana yang megah sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama dengan Istana Dhamna.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dari hasil bumi seperti emas, perak, dan lain-lain. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Raja Darmaswara memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Malaka oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka selama berabad-abad sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan sejarah Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Malaka dan Kepulauan Riau.
Raja Darmaswara memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain diantaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi (Sumatra Barat sekarang).
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) dimana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan. Kedua Tokoh inilah yang menjadi Tokoh Legendaris Minangkabau.
Setelah kerajaan Kandis mengalahkan Kerajaan Koto Alang, Kandis memindahkan pusat pemerintahannya ke Taluk Kuantan oleh Raja Darmaswara (tidak diketahui Raja Darmaswara yang ke berapa). Pemindahan pusat pemerintahan Kandis ini disebabkan oleh bencana alam (tidak diketahui tahun terjadinya) yang mengakibatkan Istana Dhamna hilang tertimbun tanah atau mungkin oleh perbuatan makhluk halus yang menghilangkan istana dari pandangan manusia.
Istana Dhamna yang hilang ini pernah diperlihatkan pada tahun 1984 kepada 7 (tujuh) orang Lubuk Jambi yang waktu itu mencari goa sarang layang-layang (walet) yang dipimpin oleh seorang guru Tharekat yang bergelar Pokiah Lunak. Mereka melihat istana itu lengkap dengan pagar batu disekelilingnya. Pada tahun 1986 untuk kedua kalinya pagar istana diperlihatkan kepada tiga orang yang sedang mencari rotan/manau. Berita penemuan Istana ini menyebar dan besok harinya banyak penduduk pergi ingin melihatnya, namun tidak ditemukan lagi. Begitulah sebagai bukti istana yang hilang yang bernama Istana Dhamna sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Kandis, satu kerajaan yang tertua di Indonesia.
Pada tahun 1375 M Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Ketemenggungan dan beberapa orang lainnya hilir berakit kulim sebagai napak tilas pertama menelusuri negeri asal mereka melalui sungai keruh sesuai dengan peninggalan sejarah dari leluhurnya Dt. Perpatih Nan Sabatang yang pertama pindah ke Sumatra Barat. Dalam pelaksanaan hilir berakit tersebut banyak kesulitan karena sungai masih sempit banyak kayu dan akar yang menjuntai ke sungai, sehingga rakit sering tersangkut. Untuk mengelakkan halangan ini Dt. Perpatih Nan Sabatang selalu memerintahkan kuak-kan-tan, yang akhirnya Dt. Perpatih Nan Sabatang merubah nama Sungai Keruh menjadi Batang Kuantan yang berasal dari kata kuak-kan-tan.
Setelah mereka sampai di Kerajaan Kandis Dt. Perpatih Nan Sabatang menukar nama Kerajaan Kandis dengan Kerajaan Kuantan yang pada waktu itu kerajaan Kandis diperintah oleh tiga Orang Godang, yaitu Dt. Bandaro Lelo Budi dari Kari, Dt. Pobo dari Kopah dan Dt. Simambang dari Sentajo yang selanjutnya dikenal dengan Tri Buana. Pemerintahan dipegang oleh Orang Godang disebabkan karena terputusnya Putra Mahkota dari Raja Darmaswara.
Dt. Perpatih Nan Sabatang mengadakan pertemuan dengan ketiga Orang Godang tersebut serta menghadirkan pemuka masyarakat lainnya di Balai Tanah Bukik Limpato Inuman untuk memusyawarahkan persyaratan berdirinya satu Nagori di daerah Kuantan.
Pada tahun 1425 M Kerajaan Kuantan menerima tamu kehormatan yang berasal dari Kerajaan Chola dari India Selatan, yaitu Natan Sang Sita Sangkala dengan julukan Sang Sapurba. Sang Sapurba kawin di Semenanjung Malaka dengan Putri Kerajaan Sriwijaya yang bernama Putri Lebar Daun dan mendapatkan anak empat orang yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka, Putri Candra Dewi dan Putri Bilal Daun. Sesampainya di Kerajaan Kuantan Sang Sapurba diminta oleh Dt. Bandaro Lelo Budi, Dt. Pobo dan Dt. Simambang menjadi raja di Kerajaan Kuantan. Sang Sapurba menerima tawaran tersebut.
Kerajaan Kuantan yang berpusat di Sintuo dibawah pemerintahan Sang Sapurba tidak banyak mencapai kemajuan. Peninggalan Raja Sang Sapurba hanya membuat danau Raja untuk pemeliharaan buaya di Paruso, membuat sumur dan kolam raja yang sampai sekarang masih ada bukti peninggalan Sang Sapurba tersebut. Disamping itu Sang Sapurba membunuh naga (ular) yang besar dengan keris Ganjar Iyas karena naga (ular) tersebut telah meresahkan masyarakat. Tempat mati naga (ular) tersebut diberi nama Punago artinya punah naga. Sedangkan Teluk Kuantan sekarang dijadikannya pelabuhan dagang.
Pada tahun 1435 M Sang Sapurba yang datang dengan Ceti Bilang Pandai di Kerajaan Kuantan mohon diri dan melanjutkan perjalanan ke hulu Batang Kuantan (Sumatra Barat sekarang atau Minangkabau) dan menuju Pagaruyung di Tanah Datar. Sepeninggal Sang Sapurba berdirilah kerajaan-kerajaan kecil di Kuantan dan hilang fungsi Orang Godang nan batigo yang membantu Sang Sapurba dalam kerajaan Kuantan.
Penyebaran keturunan kerajaan Kandis ke berbagai daerah di Sumatra ditandai dengan persamaan bahasa dengan bahasa orang Kuantan seperti ke Payakumbuh, Sibolga, Tapak Tuan, daerah Kampar, Jambi, Bengkulu dan daerah-daerah di Sumatra Barat.
Bukti-bukti Sejarah daerah Kuantan di Bawah Permukaan Laut
Bukti daerah Kuantan dibawah permukaan laut dimasa Sumatra bernama Pulau Perca diantaranya adalah:
• Adanya tempat bernama Rawang Ojung (kapal kayu), ditempat ini dahulunya Ojung menjatuhkan sauh/jangkar (di Desa Pulau Binjai sekarang).
• Adanya tempat bernama Rawang Ojung/Rawang Tekuluk (di Desa Sangau sekarang).
• Ditemukannya fosil kerang laut di Sosokpan pada tahun 1982 oleh penduduk waktu menggali tanah membuat kebun. Dinamakan tempat ini dengan Sosokpan maksudnya ditempat ini dahulunya binatang menyosok/minum ke tepi pantai.
• Adanya nama tempat bernama Sintongah di Desa Sangau, dimana Raja Sintong (Raja Sriwijaya) mengadakan ekspedisi ke Kerajaan Kancil Putih dan ditempat ini mereka menjatuhkan jangkar, sehingga tempat ini dinamakan Sintongah.
• Pada tahun 2000 M ditemukan batu laut di daerah Cengar oleh seorang Mahasiswa Arkeologi dari Universitas Hasanudin Makasar.
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Kandis:
• Bekas penambangan emas yang disebut dengan tambang titah, artinya diadakan penambangan emas atas titah Raja Darmaswara. Lokasinya dikaki Bukit Bakar bagian timur yang lobang-lobang bekas penambangan telah ditumbuhi kayu-kayuan.
• Adanya daerah yang bernama Muaro Tombang (Muara Tambang) yang terletak di sebelah hilir tambang titah.
• Istana Dhamna yang berlokasi di Bukit Bakar (belum terungkap).
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Koto Alang:
• Adanya tempat yang disebut Padang Candi di Dusun Botung (Desa Sangau), menandakan Kerajaan Koto Alang menganut agama Hindu. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya. Dilokasi tersebut ditemukan potongan-potongan batu bata candi.
• Dilain tempat telah berulang kali diadakan penggalian liar dari situs Kerajaan Koto Alang tanpa diketahui maksud dan tujuan oleh penduduk dan tanpa sepengetahuan Pemangku Adat dan Pemerintah. Penggalian tersebut dilakukan dimana diperkirakan letaknya istana Koto Alang di Dusun Botung tersebut.
• Pada tahun 1970-an banyak penemuan masyarakat yang mendulang emas seperti cincin, gelang, penjahit emas, dan mata pancing dari emas.
• Pada tahun 1967 ditemukan tutup periuk dari emas di dalam sungai Kuantan. Tutup periuk emas ini diambil oleh pihak yang berwajib dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Diperkirakana tutup periuk ini terbawa arus sungai yang berasal dari tebing yang runtuh disekitar Kerajaan Koto Alang.
• Pada tahun 2007 dilakukan penggalian oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah. Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.
• Adanya sungai yang mengalir dipinggir Padang Candi yang disebut dengan Sungai Salo yang berasal dari kata Raja Bukak Selo karena dikalahkan oleh Kerajaan Kandis.
• Adanya tempat bernama Lopak Gajah Mati sebelah selatan Pasar Lubuk Jambi. Tempat itu merupakan tempat Gajah Tunggal mati dibunuh oleh Raja Koto Alang yang dibunuh dengan lembing sogar jantan. Disebut Gajah Tunggal karena gading gajah tersebut hanya satu sebelah kiri kepalanya. Gading tersebut telah dijual pada tahun 1976 karena tidak tahu nilai sejarahnya. Didalam kepala gajah ditemukan sebuah mustika yang sangat indah sebesar bola pimpong. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah Mati dinamakan dengan Batang Simujur, artinya mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.
Bukti Kerajaan Kancil Putih
• Adanya ekspedisi Raja Sintong (Raja Sriwijaya) ke Kerajaan Kancil Putih, sehingga ada nama tempat Sintongah di Desa Sangau.
Demikianlah gambaran singkat tentang Pulau Atlas, Istana Dhamna, Kerajaan Kandis dan beberapa kerajaan yang pernah ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau (peta dan letak lokasinya dipegang oleh tim penelusuran peninggalan kerajaan Kandis yang dibentuk oleh Pemangku Adat Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal). Kalau Kerajaan Kandis ini Benua Atlantis yang dimaksud oleh Plato, berarti peninggalan Kerajaan Kandis termasuk warisan budaya dunia. Oleh karena itu partisipasi berbagai pihak (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemangku Adat dan masyarakat setempat) sangat menentukan dalam mengungkap kembali pusat peradaban dunia tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)









